ngga terasa sudah hampir sebulan gw tinggal di negara matahari terbit setelah 30 tahun menghabiskan waktu di negara yg selalu disinari matahari sepanjang tahun, di negara yg ramai, padat dan metropolis (meski gw tinggal selalu di pinggirannya ;P)..sekarang mesti beradaptasi dg cuaca yg dingin dan juga suasana pegunungan. untuk yg terakhir sih ngga bermasalah, malah gw cenderung menikmati..suasana yg sepi..sejuk dan jauh dari hingar bingar. ke mana-mana gw mengandalkan sepeda karena ongkos transportasi lumayan mahal, lagipun bersepeda itu menyenangkan plus menyehatkan.
sebelum gw pindah ke sini, banyak teman n mantan kolega yg bilang kalo orang jepang itu ramah2. itu benar adanya. mereka selalu tersenyum dan menyapa. tenang dan bahagia. itulah yg bikin bingung, kenapa pas jaman penjajahan dulu, mereka bisa sadis n sekejam itu ya??
masalah yg gw temukan sejauh ini adalah bahasa..dan kelangkaan mencari bahan2 masakan secara kemampuan masak gw adalah masakan indonesiah yg mesti tersedia kunyit, kemiri, bawang merah, cabe, sambel pecel, dll. juga karena terlalu lama dimanjakan oleh kemapanan sistem infrastruktur singapura, gw mengeluhkan tidak tersedianya eskalator ato elevator atau pun jalan yg dikhususkan bagi para ibu2 pembawa stroller, pemakai kursi roda, pembawa troli belanja dll di setiap stasiun, fasilitas itu hanya ada di setasiun besar saja. jadi gw harus bolak-balik ngangkat stroller buat naik turun tangga yg lumayan tinggi plus megangin anak gw dg tas bawaan yg juga ngga enteng. pfiuhh. dalam hal ini jepang masih kalah respon dibanding singapura. bahkan di shinjuku pun, gw masih suka keder dg papan penunjuk arahnya dan ngga semua jurusan bebas tangga.
satu lagi, di dalam kereta pun di saat gw ngga bawa stroller, mereka kadang ngga memberi tempat duduk. jadi suami gw gantian dg gw menggendong anak. oya taksi di jepang buat gw adalah kemewahan karena ongkosnya yg lagi-lagi mahal. jd kemana-mana masih mengandalkan kereta dan sepeda. rute bus ngga tertulis dan bisa diakses dg mudah. mereka punya jadwal yg lamanya bisa setiap sejam atau dua jam sekali. jadi kalo tertinggal ya selamat menunggu bis selanjutnya. seperti kejadian gw kemarin, jadwal tertulis 12.08..dan gw berjarak sekitar 5 meter dari bisnya, tapi apa daya tetep ditinggal sama supirnya..sigh.
wanita jepang yg sudah menikah rata2 menjadi ibu rumah tangga. bagi mereka, posisi ini adalah posisi yg terhormat. mereka membekali diri dg les memasak, les merangkai bunga dan les ini itu dg harapan mereka bisa menjadi master dalam rumah tangganya. bahkan untuk membuatkan bento buat makan siang anaknya, mereka bangun pagi2 sekali dan menghias bento itu dg bentuk2 yg menarik.
di jepang, tk dan preschool tidak pernah mengajarkan phonics atau huruf2..mereka hanya diajarkan menyanyi, outing seperti didorong dalam gerobak untuk melihat kereta, diajak ke sawah untuk melihat bagaimana caranya panen kentang, intinya adalah bermain. tidak seperti sistem singapura yg sejak dini anak2 sudah diajarkan huruf dan angka. bingungnya, kenapa jepang lebih cerdas ketimbang singapura? apakah berarti korelasi dg mengajarkan matematika dan membaca sejak dini dg kepandaian ketika dewasa tidak terlalu berpengaruh? ini yg masih jd pertanyaan buat gw.
orang jepang mempunyai hobi yg spesifik. teman gw bercerita bahwa anak temannya hobi sekali mengumpulkan serangga. sewaktu gw pergi ke gunung untuk melihat momiji (daun musim gugur), banyak anak yg antusias mengumpulkan dedaunan dan buah2 yg jatuh.
satu lg yg gw suka dari jepang adalah banyak orang terutama wanita yg berdandan modis baik tua maupun muda. bahkan kemarin gw lihat anak laki2 yg bermain bersama neneknya yg berambut UNGU!..


