Keluarga Berencana

Menurut gw, orang Indonesia itu basa-basinya ngga jauh-jauh dari urusan ranjang. Kalau orangnya masih muda, biasanya ditanya sudah berkeluarga atau belum. Kalau ketahuan jomblo, langsung dikejar kapan nikah. Kalau sudah nikah, berlanjut ke urusan kapan mau punya momongan. Kalau anak baru satu, lantas lanjut ke pertanyaan kapan mau anak kedua, ketiga dst. Anaknya perempuan semua, digoda untuk punya anak lelaki, begitu sebaliknya.

Gw sih sudah kebal menghadapi pertanyaan kapan mau punya anak lagi. Dalam ilmu ekonomi ada teori yang namanya Diminishing Marginal Utility. Bertambahnya kuantitas, bukan malah menambah kenikmatan/kualitas tetapi malah menguranginya. Seperti minum air di saat haus berat. Tegukan pertama mempunyai nilai tertinggi dibandingkan tegukan kedua, ketiga dan seterusnya.

Entah ya, sampai saat ini belum ada sama sekali keinginan buat tambah anak. Buat gw, semua orang harus bisa bercermin kepada dirinya masing-masing. Bertanya dan mengukur kemampuannya.

Anak bukan investasi.

Kadang atau banyak (?) orang tua yang menganggap anaknya sebagai investasi atau untuk balas budi. Tujuannya supaya kalau tua, ada yang merawat dan menghidupi. Mereka lupa bahwa anaknya tidak pernah meminta untuk dilahirkan. Kita yang menginginkan mereka ada. Maka, jangan berharap apapun kepada mereka. Bersyukur bahwa Tuhan mengabulkan keinginan kita untuk dikaruniai keturunan yang menjadi penerus kita di bumi ini.

Kalau sang anak nanti pergi jauh, tidak menetap dan berkumpul bersama orang tuanya. Ikhlaskanlah. Jangan belenggu kebebasannya demi ego orang tua.

Selama sang anak masih bersama-sama kita, nikmati setiap detiknya karena tak lama lagi, ia harus pergi meninggalkan sarangnya. Belajar sebanyak-banyak dari kehidupan. Bebaskan, beri kesempatan ia belajar, berkelana sebanyak-banyaknya.

Sumber Daya yang Terbatas.

Kita semua tahu bahwa sumber daya alam itu terbatas. Katakan kota A dengan sumber dayanya, ia hanya mampu menanggung 100,000 jiwa. Dengan 100,000 jiwa, penduduknya bisa menikmati pendidikan gratis, kesehatan gratis, subsidi untuk kebutuhan sandang, pangan, papan.

Sekarang jika jumlah penduduk di kota A naik 2, 3, 5 atau bahkan 100 kali lipat, kualitas hidup terpaksa dikorbankan. Sekolah mahal, biaya kesehatan mahal, susah dapat kerja, dll. Siapa yang salah?

Pendidikan dan bahasa Inggris.

Satu-satunya cara untuk meningkatkan taraf hidup adalah dengan pendidikan. Mau bermimpi jadi konglomerat dengan ijasah SD di jaman sekarang rasanya sangat konyol. Gw ngga bilang mustahil, karena Tuhan Maha Segalanya. Tapi kebanyakan orang, mereka yang berkecukupan rata-rata adalah mereka yang berpendidikan tinggi.

Hari gini, bahasa Inggris itu wajib dikuasai. Indonesia jauh tertinggal dibanding negara-negara tetangganya yang mengadopsi bahasa Inggris sebagai bahasa akademik dan bahasa bisnis. Buang jauh-jauh rasa bangga yang berlebihan terhadap bahasa Indonesia, sampai-sampai merasa tak perlu belajar bahasa Inggris di sekolah.

Di tempat gw sekarang, pekerjanya rata-rata berasal dari negara-negara yang berbahasa Inggris. Banyak suster, staff dan supir dari Filipina, staff IT dan pekerja-pekerja dari IPB (India, Pakistan, Bangladesh), pengajar dan peneliti dari negara-negara Barat bahkan banyak pelajar dari Cina. Indonesia hanya dikenal sebagai negara pengekspor pembantu. Bahkan pembantu dari Filipina bergaji lebih tinggi dari pembantu Indonesia. Alasannya karena mereka berbahasa Inggris.

Jujur saja kadang gw malu kalau ditanya negara asalnya. Rasa bangga gw pudar perlahan-lahan. Apa yang mau dibanggakan selain alam dan makanannya? Korupsi nomor wahid, kotor dan macet di mana-mana, mau ke mana-mana mesti pakai visa. Kadang-kadang rasanya mau ganti warga negara saja ;P

Kualitas pendidikan di Indonesia masih sangat rendah. Banyak yang tidak bisa baca-tulis. Tidak ada standar baku yang diterapkan di semua sekolah-sekolah di Indonesia. Harusnya banyak guru-guru dan dosen-dosen disekolahkan ke luar negeri. Banyak beasiswa disediakan untuk anak-anak berprestasi. Banyak dana riset digelontorkan kepada peneliti-peneliti di universitas. Berikan bonus kepada peneliti yang berhasil mempublikasikan hasil karyanya di jurnal-jurnal internasional yang bergengsi.

Sekolahkan anak di sekolah terbaik. Mahal? Sudah pasti. Itulah konsekwensi punya anak. Bayar les mahal? Tentunya. Lagi-lagi, ini konsekwensi punya anak. Maka dari itu, pikirkan baik-baik dari awal. Hendak menikah atau melajang. Hendak mempunyai anak atau berdua saja. Tulikan diri terhadap pendapat orang. Jangan ikut-ikutan. Bahagia itu dari diri kita, bukan orang lain yang mendiktenya.

KB dan adopsi.

Memang hak seseorang mau punya anak berapa pun. Tapi jangan harap gw bakal tersenyum manis kalau mendengar atau membaca tulisan seseorang yang pingin bercita-cita punya anak banyak. Syukur-syukur ngga pasang muka jutek ;P. Indonesia sudah kebanyakan penduduk!!! Lebih baik cita-cita mulia itu dialihkan kepada hal-hal lain yang jauh lebih mulia. Seperti mengadopsi anak-anak yatim piatu di panti-panti asuhan yang haus kasih sayang orang tua. Double rewards. Dapat anak dan dapat pahala.

Buat ibu-ibu dan bapak-bapak, yuk jangan malas ikut KB. Keluarga Berencana bukan berarti harus dua anak saja. Tetapi keluarga yang harus direncanakan dengan matang. Harus berencana bahwa si abang lulus dari Caltech. Bahwa si gadis lulus dari Harvard, bahwa si kakak lulus dari Delft, bahwa si bungsu lulus dari Aachen, dan sebagainya-dan sebagainya.

Keluarga yang harus berencana bahwa si abang, gadis, kakak dan bungsu terjamin hidupnya selama kuliah di sana, keluarga yang berencana bahwa bapak dan ibu bisa pensiun dengan tenang tanpa harus membebani hidup si abang, gadis, kakak dan bungsu.

Berat? iya. Pastinya lebih berat ketimbang mengangkat sarung. Jadi pikirkan semuanya masak-masak!

Jalan-jalan ke Turki

Jalan-jalan kali ini sebenernya ngga direncanakan. Suami kebetulan hendak pergi seminar ke luar dan harus memproses exit re-entry visa. Supaya efisien, dia juga memproses visa untuk gw dan anak supaya jika kita pergi ke luar Saudi, ngga perlu report-repot untuk urus visa masuk kembali. Ternyata, kebijakan dari KAUST, jika visa exit re-entry sudah ditangan, dalam waktu 90 hari kita diharuskan keluar dari Saudi untuk sementara. Jika dilanggar, kena denda 1,000 sar per orang. Ketimbang bayar denda, lebih baik uangnya digunakan untuk beli tiket ;P

Pilihan yang paling mudah adalah pergi ke negara tetangga terdekat. Bisa melipir ke Bahrain, ke Dubai, Abu Dhabi, termasuk ke Turki. Setelah dipikir-pikir, Turki nampaknya adalah pilihan yang paling menarik. Banyak museum, dekat laut, dan hanya 3.5 jam perjalanan.

Setelah googling sana-sini, kita putuskan untuk pergi ke Cappadoccia dan Istanbul. Sengaja pergi hanya membawa backpack supaya praktis ketika di bandara. Tujuan utama ke Cappadoccia adalah naik balon udara. Kita mendarat di Cappadoccia sore hari dan tepat sebelum matahari bersinar, rencananya sudah naik balon udara. Kita menginap di Harman Cave Hotel. Pelayanannya baik, wi-fi kencang namun tidak ada restoran di dalam hotal. Terpaksa ngga makan malam karena restoran di hotel sebelah sudah penuh dan baru bisa melayani di jam yang sudah terlalu malam. Tengah malam, tiba-tiba terbangun gara-gara dengar bunyi hujan dan halilintar. Wah gawat, alamat batal naik balon udara. Cek ramalan cuaca, ternyata bakal ada badai dari malam sampai esok hari. Jam empat pagi, dibangunkan untuk segera pergi ke tempat makan milik perusahaan balon udara. Kita sarapan di sana sambil terus memantau perkembangan cuaca terakhir. Sampai jam 6 pagi akhirnya dengan terpaksa semua penerbangan dibatalkan karena BMG-nya Turki tidak mengijinkan penerbangan karena cuaca buruk.

Karena keinginan naik balon udara masih menggebu, kita berusaha untuk menginap satu malam lagi di Cappadoccia dan mengontak semua perusahaan balon udara di sana. Namun semua sudah penuh dan tidak menerima pesanan lagi. Jadi, kalau berencana ke Cappadoccia, cek ramalan cuaca karena cuaca di Cappadoccia bisa berubah-ubah sewaktu-waktu. Jangan tinggal di sana hanya semalam atau dua malam dan booking perusahaan balon untuk semua hari tersebut. Jika gagal terbang di hari pertama, setidaknya masih ada kesempatan di hari berikutnya.

Pagi hari setelah badai, siang harinya ternyata cuaca cerah ceria. Sayangnya selama musim panas, penerbangan balon hanya sekali sehari. Akhirnya sebagai pelipur lara, kita sewa taksi untuk mengantar kita keliling Cappadoccia. Dari beberapa rute yang ditawarkan, rute merah lah yang dipilih. Jalurnya melewati Uchisar (tempat tertinggi di Cappadoccia), Cavusim (gua batu dan beberapa tempat bersejarah sepeti masjid dan gereja yang dibangun di masa lampau), Avanos (makan siang dan ke museum keramik), Urgup, Goreme, dll.

Sore hari kita menuju ke Istanbul dan tinggal di daerah Sultanahmet, dekat stasium Camberlitas. Letaknya sangat dekat dengan tempat-tempat populer seperti Hagia Sophia, Blus Mosque, Basilica Cistern dan Topkapi Palace. Selain mengunjungi tempat-tempat tersebut, juga naik kapal menyebrangi selat Bosphorus dan pelesir di daerah Taksim. Kita sangat menikmati Istanbul. Kota yang cantik dan banyak pernak-pernik menarik yang sungguh menggoda untuk dibeli. Apalagi kalau lihat permadani Tuki yang banyak dipajang di etalase toko, duh..pingin beli semuanya. Tanya-tanya harganya, kisarannya ribuan dolar untuk karpet yang dibuat dari serat sutera atau campuran sutera dan wol. Yang paling terkenal adalah permadani buatan Hereke. Akhirnya kita memutuskan untuk membeli kilim ukuran kecil dengan harga yang JAUH lebih bersahabat. Harga ini didapat setelah 1 jam lebih bernegosiasi sambil disuguhi teh apel khas Turki. Ada juga keramik yang cantik-cantik. Saran gw, lebih baik beli keramik di workshopnya karena buatannya asli dari tempat tersebut. Kalau beli di pasar atau tempat belanja, takutnya dapat keramik buatan Cina. Sayang kan?

Kita juga sempat nonton film di bisokop. Kebetulan ada bioskop yang letaknya tidak jauh dari hotel. Harga tiketnya kalau tidak salah 11 lira. Film yang diputar adalah Jurasic World dan film-film horor ala Turki. Yang unik dari nonton film di Turki, ada istirahat selama 5 menit ditengah-tengah film. Mungkin maksudnya memberi waktu bagi orang yang ingin ke toilet atau merokok sebentar.

Yang paling berkesan dari perjalanan ke Turki adalah kesempatan untuk berkungjung ke Sultahmed Mosque/Blue Mosque. Dulu sewaktu kerja di Sinagpura, ada kalender meja yang gambarnya berbagai tempat populer di berbagai negara. Salah satunya foto Blue Mosque. Setiap lihat foto itu, selalu berharap suatu saat bisa pergi ke sana. Ternyata delapan tahun kemudian, Tuhan mengabulkan keinginan gw.

Oleh-oleh selain kilim tentu saja berbagai macam Turkish Delights, kopi dan teh Turki sepeti teh apel, teh delima, teh-bunga-bungaan dan lain-lain. Yum-yum. Makanan Turki agak aneh untuk lidah gw. Yang paling bisa diterima tentu saja kebab. Akhir kata, semoga kapan-kapan bisa kembali mengunjungi Turki lagi, sekaligus membeli permadani Hereke yang terkenal ituūüėÄ

 10422514_864959023596929_8157483072675608452_n 10437501_864959286930236_3476292739291704893_n 10511234_864959590263539_5283834179873844532_n 10988511_864958920263606_7193824566858205334_n 11011473_864959470263551_603537461329109531_n 11050250_864959366930228_850390089918771643_n 11180320_864959410263557_3004795844908183849_n 11181690_864959696930195_779759648973015619_n 11207347_864959430263555_9104583306619782329_n 11244579_864959310263567_7410734265401097906_n 11257961_864958953596936_5797714076674771888_n 11535677_864959476930217_7774371193538172218_n 11535917_864959250263573_711542806430029569_n                                      10986564_864959510263547_6399862114864542573_n

Setahun di KAUST

Ngga terasa sudah setahun kita hijrah ke ‘negara’ KAUST. Kalau biasanya lewat satu tahun, gw mulai gerundelan ini-itu, alhamdulillah satu tahun di sini gw merasa sangat bersyukur, bahagia, tenang, bahkan punya perasaan ngga mau pindah. Betah..betah..betah. Selama KAUST masih seperti ini, gw pingin terus di siniūüôā

Hidup dalam komunitas kecil itu lebih enak. Lebih tertata dan lebih sedikit masalah. Kemarin sempat ada masalah dengan asupan air bersih dan listrik. KAUST memang tidak siap dengan hal-hal darurat tetapi presidennya cepat tanggap dalam menyelesaikan masalah.

Setahun di sini, kita mulai hapal kota Jeddah. Setidaknya tau di mana tempat buat makan pecel lele, sate ayam, bakso, nasi goreng, pempek, meski salah satu tempat itu baru saja kena garuk polisi karena berada di taman umum yang terlarang buat berjualan. Sedihnya ;(

Tinggal di KAUST yang notabene berada di provinsi Mekkah, berarti dekat dengan Ka’bah. Kalo kangen tinggal naik bis, gratis dan nyaman. Ngga mau uyel-uyelan, tinggal datang pas umrah lagi ditutup buat jamaah luar negeri. Lega dan kesempatan buat cium Hajar Aswad juga besar. Minum zam-zam sepuasnya. Duh, nikmat tiada tara.

Anak juga sudah terbiasa dengan sekolah dan teman-temannya. Cuma ibunya yang kurang terbiasa. Di Jepang biasa dengan pe-er yang banyak, buku yang banyak, rapat dan kegiatan sekolah. Di sini pe-ernya via aplikasi di tablet. Gurunya bisa ngecek hasilnya dan memantau perkembangannya. Belajar kebanyakan lewat komputer (semua anak dapat iMac di sekolahnya) dan foto kopian. Dan belajar dengan diskusi, diskusi dan diskusi. Tetapi biar  bagaimana pun, gw sangat bersyukur. Sekolah gratis dan fasilitasnya bagus.

Hal lain yang mulai berubah dari ritme hidup gw adalah mulai kerja full time. Gw sudah ngalamin semuanya. Mulai dari single bekerja, ibu rumah tangga, ibu bekerja dengan asisten rumah tangga, ibu rumah tangga dan kerja paruh waktu, dan ibu bekerja tanpa asisten. Dari semuanya, yang paling berat adalah ibu bekerja tanpa asisten. Rasanya seperti jadi superwoman. Pagi siap-siap, kerja, jemput anak, masak, nemenin anak belajar sebentar terus tidur. Teler.¬†Untungnya punya suami yang top markotop. Telaten nemenin anaknya belajar, pengertian kalo istrinya lagi ngga masak karena kecapekan ato ngga moodūüėõ, pipisin anaknya tengah malem, ngurusin anak dan bahkan masak kalo gw mesti lembur pas weekend. Jempol deh. KAUST juga memberi support untuk para single parent, keluarga tanpa asisten seperti kita untuk bisa bekerja dengan tenang. Ada day care dan penitipan anak bagi anak yang mulai besar.

Yang pasti, hidup di KAUST lebih banyak sukanya ketimbang sebelnya. Lebih banyak bahagianya ketimbang sedihnya. Selama ada KAUST, ada sambal mbak Wita, ada pistachi mammoul, ada jadwal nge-mall seminggu sekali, gw ngga punya alasan buat ngedumel.

Happy 1 year KAUSTiversary to us.

Semoga tahun mendatang lebih baik lagi, semoga Tuhan terus melimpahi karunianya kepada kita semua. Amien.

Umrah

IMG_2196Salah satu keuntungan tinggal di KAUST adalah kita bisa pergi umrah setiap minggu. Bahkan untuk minggu kedua dan keempat, bisa dua kali umrah dalam seminggu. Bulan lalu kita pergi umrah untuk pertama kalinya. Sebenarnya rencana awal hanya shalat di Masjidil Haram sambil melihat-lihat kondisi di sana. Tetapi akhirnya kita memutuskan untuk umrah sekalian karena ada teman yang berbaik hati untuk meng-guide kita selama umrah.

Gw cepat-cepat beli ihram karena bis ke Mekkah mau berangkat selepas shalat Jumat. Sayangnya ihram untuk anak-anak ngga dijual di supermarket dalam kompleks. Harus beli di Jeddah. Terpaksa olit ngga pakai pakaian ihram ketika umrah.

Ngga bisa diungkapkan dengan kata-kata pertama kali gw melihat Ka’bah. Begitu agung dan begitu dekat. Alhamdulillah ya Rabb bisa mendapatkan kesempatan untuk melihat rumahMu, shalat di masjid teragung, berada di kota suci. Alhamdulillah..alhamdulillah..alhamdulillah.

Ternyata ibadah umrah tidak terlalu memakan waktu terlalu lama. Thawaf diselesaikan dalam waktu sejam, begitu pula sa’i. Jadwal kita kemarin adalah sampai di Masjidil Haram sekitar jam setengah empat, lalu makan sore. Lanjut shalat ashar, baru mulai thawaf yang berakhir pas ketika adzan maghrib. Sehabis shalat maghrib, lanjut sa’i, dan berakhir saat adzan isya. Selepas isya, kita makan malam sambil menunggu bis pulang kembali ke KAUST.

Dari perjalanan kemarin, gw ingin memberi sedikit saran jika berumrah  :

  • Sebaiknya memakai masker ketika berumrah. Karena kita akan berada di antara ratusan, atau mungkin ribuan manusia dari berbagai negara. Banyak dari mereka yang bersin, batuk dengan seenaknya. Salah satu teman pernah bilang kalau di kampus mulai banyak orang yang batuk-batuk, itu artinya ada dari mereka yang baru saja pergi ke Mekkah.
  • Bagi yang membawa anak kecil atau orang berusia lanjut, sebaiknya umrah dilakukan petang hari. Karena tidak semua orang kuat berdesak-desakan ketika thawaf di bawah terik matahari.
  • Thawaf tidak harus dilakukan dari lantai dasar. Jika terlalu sesak, bisa dilakukan dari lantai dua. Sebaiknya mereka yang membawa anak kecil dan orang lanjut usia, berthawaf di lantai atas.
  • Sebelum umrah dimulai, sebaiknya selesaikan semua hajat besar dan kecil di toilet mall dekat Masjidil Haram. Juga sekalian berwudhu. Karena gw ngga merekomendasikan toilet umum di sekitar masjid. Selain antrinya panjang, kurang higenis juga.
  • Sebaiknya umrah dan haji dilakukan ketika kita masih muda. Jangan menunggu sampai tua baru berhaji. Kecuali kalau keadaan belum memungkinkan. Sebab kita harus berdesak-desakan, berpanas-panasan (jika dilakukan siang hari), berkumpul dengan beribu-ribu orang yang tidak semua dari mereka dalam kondisi sehat, berjalan jauh, dll. Ketimbang nanti ketika beribadah malah jatuh sakit, sebaiknya berhaji atau berumrahlah ketika kondisi kita masih kuat.

ps. yang ini saran bagi mereka yang sudah berangkat haji dari Indonesia, sebaiknya tahan keinginan untuk berhaji lagi. karena banyak dari saudara kita yang ingin berhaji untuk pertama kalinya, harus menunggu lama untuk mendapatkan kesempatan itu. berempatilah, beri kesempatan bagi mereka. jika ingin kembali ke tanah suci, lebih baik berumrah saja.

Hal-hal yang dikangenin dari Jepang

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Meski sadar bahwa Arab itu beda dari Jepang. Tetep aja begitu tinggal di negara lain, yang ada bawaannya jadi membanding-bandingkan dan merindukan berbagai hal dari negara sebelumnya.

Di bawah ini adalah daftar hal-hal yang gw kangenin dari Jepang:

  • Uang yang selalu nampak baru, bersih dan jarang terlipat. Kenapa daftar gw yang pertama adalah uang? Karena ini adalah kesan pertama yang gw tangkap dari hari pertama gw di Saudi. Di sini, riyal selalu nampak lusuh dan kucel. Padahal wajah sang raja tersenyum ramah pada setiap lembarnya.
  • Barang berkualitas prima. Di Jepang, barang-barang apapun selalu berkualitas baik. Di supermarket, segala macam sayuran, lauk pauk, barang-barang dapur, dll selalu berkualitas baik. Bahkan di toko hyakuen (100 yen), meski berembel-embel made in China, tetap yang dipilih kualitas no. 1. Sedangkan di KAUST, tempat shopping paling keren cuma di Tamimi Supermarket, di mana barang-barang yang dijual made in China kualitas nomor buncit.
  • Malls..malls..and malls. Gw kangen sekangen-kangennya sama Aeon Mall Musashi Murayama, sama Celeo, dan mall-mall lainnya. Di sini, kalo ke mall mesti naik bis jemputan yang jadwalnya cuma di hari-hari tertentu, jam-jam tertentu yang kurang pas. Belakangan ini gw memang agak kurang enak hati, kurang enak makan..mungkinkah karena efek jarang ke mall? *menghembuskan nafas pelan-pelan*
  • Udara yang bersih. Terbiasa tinggal di pegunungan, pindah ke gurun berarti rumah harus sering-sering disapu dan di pel. Kalau keluar rumah harus selalu sedia sapu tangan atau tissue. Apalagi kalau ada badai pasir. Mata bisa kelilipan, hidung dan tenggorokan gatal karena debu.
  • Makanan Jepang, matcha dan mugicha. Biarpun gw bukan pecinta berat makanan Jepang, tapi jauh dari kaiten sushi, jauh resto soba dan udon yang biasanya tinggal mancal buat makan,¬† matcha dan mugicha yang tinggal dicelup buat minum, bikin terbayang-bayang selalu.
  • Bis yang nyaman dan berjalan lambat. Bis di Jepang ngga ada yang seradak-seruduk. Semua berjalan perlahan dan teratur. Kadar adrenalin gw selalu berada diambang bawah. Di sini, supir bis ngebut sedikit aja bikin jantung gw deg-degan.
  • Japanese artsy-craftsy. Buat gw, semua pernak-pernik Jepang kayak kertas surat, kalender, kartu ucapan, postcard, sulaman, tas-tas, dompet, keramik, dll itu imut dan indah sekali. Gw paling suka berlama-lama di tempat yang menjual barang-barang tersebut buat sekedar melihat-lihat.
  • Online shopping dan jasa pengiriman. TOP BGT deh!
  • Jemur baju di luar. Buat gw, jemur baju di bawah panas matahari itu paling sip. Baunya itu lho, mmmm…dan ngga ngerusak warna. Gw paling sedih plus sebel kalo mesti buang baju kesayangan karena warnanya pudar gara-gara pake dryer. Tapi di sini, terpaksa balik lagi karena jemur di luar ngga memungkinkan karena panasnya sama kuatnya sama si dryer plus dapet bonus debu.
  • Pergi sendiri dengan aman. Yang ini ngga perlu dibahas lagi.
  • Toilet. Yup..toilet di Jepang selalu bersih dan wangi. Ada jua jenis kloset di Jepang, yaitu kloset duduk dan kloset jongkok. Khusus untuk kloset duduk, ada beberapa tombol tersedia di dekatnya. Ada tombol buat sound, ini penting banget buat meredam suara-suara yang kurang sopan. Tombol penyiram air yang spesifik. Tombol siram pipis sendiri, tombol siram pup sendiri. Dan kita bisa menyetel kekuatan airnya sesuai keinginan kita. Ada pula tombol untuk flush, dan kadang ada tombol pengharum ruangan juga. Tissue, tempat sampah selalu ada di tempatnya. Dan yang pasti, mereka antri dengan tertib jika toilet sedang ramai. Satu lagi nilai plus toilet di Jepang adalah kloset yang dihangatkan.

 

Awal baru di KAUST

Di awal Februari kemarin, kita resmi pindah dari Jepang. Empat tahun penuh kenangan. Terutama buat Olit, karena di sanalah dia belajar banyak tentang bahasa, budaya dan etika Jepang. Di satu sisi gw merasa lega, karena terbebas dari tetek bengek urusan sekolah, bebas dari buta huruf kanji, bebas dari status gaijin yang kadang bikin sensi. Di satu sisi, tentu saja sedih. Karena banyak teman di sana yang rasanya sudah seperti saudara dan meninggalkan semua kenyamanan hidup di Jepang seperti transportasi yang tepat waktu, jasa pelayanan yang super duper handal, barang-barangnya yang berkualitas prima, kebersihan dan keteraturannya.

Banyak yang kaget ketika tahu kita pindah ke Saudi. Banyak juga yang sangsi apakah kita bisa menikmati kehidupan di sana yang keras dan kaku. Banyak yang belum tahu  bahwa di Saudi, banyak surga-surga kecil bertebaran, yang dikenal dengan nama compound, di mana hukum Saudi yang ketat itu tidak berlaku.

Kita tinggal di salah satu surga yang bernama KAUST. Universitas milik raja Saudi ini meski belum lama berdiri, tetapi pamornya sudah mulai terlihat jelas. Banyak orang ingin belajar dan bekerja di tempat ini. Alasannya karena dana riset yang besar, ingin berhaji, fasilitasnya yang tergolong mewah dibandingkan universitas-universitas lain di dunia, pengajar bertaraf internasional, tidak berlakunya hukum Saudi, dan lain sebagainya.

Sampai sekarang, rasanya ngga percaya bisa tinggal di KAUST. Di tempat yang menurut gw, amat sangat mewahnya. Tinggal di rumah serasa tinggal di hotel setiap hari. Naik angkutan umum GRATIS kemana saja di dalam lingkungan KAUST. Ada juga bis milik KAUST yang akan mengantar kita ke tempat-tempat tertentu di Jeddah, bahkan sampai Mekkah dan Madinah. Ngga perlu pusing bayar tagihan air, listrik dan perawatan rumah. Hampir semua orang bisa berbahasa Inggris. Fasilitas kesehatan, sekolah, rekreasi yang lengkap, dll.

Fa-biayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdzi ban. Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?

Suami gw bilang, KAUST adalah lingkungan yang paling ideal untuk ditinggali. Di sini, wanita bebas dan aman memakai pakaian apapun. Mulai dari tanktop, celana pendek sampai burqa dapat ditemui. Penghuni KAUST pun beragam. Ada orang Arab, India, Barat, Asia sampai Afrika semua berbaur di sini.

Supaya ngga penasaran, gw sertakan beberapa foto tentang KAUST (catatan. memotret di dalam lingkungan KAUST tidak bisa seenaknya karena alasan privasi..apalagi memotret dengan menggunakan kamera dslr. Mesti hati-hati supaya ngga ditegur polisi =P)

ini asrama bagi mahasiswa single atau menikah tetapi belum mempunyai anak

berbagai tipe rumah untuk para mahasiswa dan karyawan

Masjid kebanggaan KAUST

salah satu fasilitas olahraga yaitu panjat dinding

pemandangan sunset di Laut Merah

Keren kan? Aslinya lebih keren lagi. Serius!!

Arubaito

Di Jepang, anak-anak muda yang telah lulus SMA biasanya akan hidup mandiri, memisahkan diri dari orang tuanya. Mereka akan menyewa tempat tinggal sendiri, mengatur hidupnya sendiri termasuk keuangannya. Bagi mereka yang akan melanjutan kuliah, pemerintah menyediakan pinjaman pendidikan yang dapat dicicil pembayarannya nanti ketika mereka sudah bekerja. Namun untuk memenuhi biaya hidup sehari-hari seperti sewa rumah, makan, transport, dll, mereka harus bekerja untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

Karena mereka masih kuliah maka pekerjaan yang bisa dilakukan harus fleksibel, bisa diatur sesuai dengan jadwal kuliah yang ada. Ada yang bekerja sejak subuh seperti mengantar koran, ada yang bekerja pagi hari di supermaket, ada yang bekerja di kedai-kedai makan, ada yang mengambil shift malam sebagai pencuci piring, dan lain sebagainya. Pekerjaan mereka ini biasa di sebut dengan nama arubaito (baito) atau part time. Jam kerja para pelajar ini dibatasi. Maksimal 20 jam perminggu agar tidak mengganggu kuliah.

Informasi tentang arubaito atau kerja paruh waktu ini bisa ditemukan di majalah-majalah khusus arubaito yang dengan mudah ditemukan di supermaket atau toko serba ada yang buka 24 jam, internet dan lain-lain. Syaratnya pun mudah. Asalkan mempunyai alamat resmi, siapapun bisa mendaftar sebagai pekerja paruh waktu.

Orang asing yang tinggal di Jepang dalam waktu lama pun bisa melamar menjadi pekerja paruh waktu. Syaratnya tentu saja bisa berbahasa Jepang dengan baik dan mendapatkan ijin dari kantor imigrasi.

Baru-baru ini gw mulai arubaito di restoran Indonesia yang letaknya agak jauh dari tempat tinggal gw. Sebenarnya banyak sekali lowongan arubaito  yang dekat rumah. Tapi karena kendala bahasa, sulit mendapatkan pekerjaan di tempat-tempat tersebut.

Bekerja sebagai pelayan di restoran adalah hal baru buat gw. Gw belajar hal dasar mulai dari membersihkan restoran, mengatur meja, mengantar pesanan, membersihkan piring dan gelas, dll. Dari semuanya, yang paling sulit adalah menumpuk piring kotor di tangan. Setelah merasakan jadi pelayan, betapa gw sangat mengagumi para pelayan resto padang yang bisa membawa piring bertingkat-tingkat di tangannya tanpa terjatuh. Syusyah gilaaaakk!!

Pelajaran penting lainnya adalah gw semakin menghargai uang. Bok, jadi pelayan itu capek ternyata. Bolak balik, mundar mandir, belum lagi kalau salah kena tegur, pfiuh! Kerja fisik itu lebih keras ketimbang kerja otak. Makanya makin kurus gw sekarang =D. Tapi temen-temen kerja yang mayoritas orang Indonesia, semuanya ramah-ramah. Beberapa dari mereka adalah pekerja tetap, pelajar sekolah bahasa, istri-istri orang Jepang dan emak-emak pengangguran butuh uang kayak gw  =D.

Setelah mendapatkan kebijaksanaan baru seperti ini, gw akan menyuruh anak gw nanti untuk bekerja sejak muda. Biar dia merasakan bahwa mencari uang itu ngga gampang. Bahwa hidup itu penuh perjuangan. Bahwa gengsi itu nomer seratus, uang nomer satu hahahaha. Menjadi pelayan juga memberikan pelajaran bagaimana cara mengelola restoran dengan baik. Kedispilinan dan kebersihan harus optimal. Dan tentu saja, moto pembeli adalah raja. Irrashaimase!!!

Quote of the day

People come, people go – they’ll drift in and out of your life, almost like characters in a favorite book. When you finally close the cover, the characters have told their story and you start again with another book, complete with new characters and adventures. Then you find yourself focusing on the new ones, not the ones from the past.

-Nicholas Sparks-

Si Pria Pintar

Sebutlah dia sebagai si pria pintar (SPP). Kenapa? karena diterima di perguruan tinggi yang masuknya sulit, karena lanjut sekolah sampai mentok di bidang yang  bukan ecek-ecek, karena pengetahuannya yang luas tentang banyak hal..mulai dari pesawat terbang, filsafat, film, politik, sosial budaya sampai humor yang awur-awur, karena bisa banyak bahasa..madura, jawa, indonesia, inggris, sedikit jepang & jerman (sedikit ini relatif lho!), karena bisa main musik..organ, piano dan gitar, tidak tuli nada dan bisa cepat memainkan lagu hanya dengan mendengar tanpa perlu melihat chord, karena pemikirannya yang matang dan dewasa, karena berani menghadapi otoritas.

Pasangan SPP banyak belajar darinya. Terutama sekali dalam hal empati. SPP ini perhatian sekali. Berbeda dengan pasangannya yang cenderung cuek. SPP juga pekerja keras dan cenderung perfeksionis. Ke mana pun selalu well prepared. Ini bertolak belakang dengan si pasangan yang selalu last minute dan procrastinator sejati.

Seringkali si pasangan terpukau ketika SPP sedang menjelaskan sesuatu. Kadang si pasangan membatin, “gile ya, pinter banget sih kamu!..ganteng pulak!” hihihi. SPP selalu menjelaskan tentang riset yang sedang dia tekuni dengan bahasa yang sederhana. Padahal bidangnya itu njlimet abis. Selain itu SPP juga pintar menjelaskan sesuatu hal dengan bahasa yang persuasif. Jadi kalau ditanya mana yang lebih cocok, jadi dosen atau CEO? ¬†dua-duanya!

SPP juga termasuk kategori family guy. Meski menurut si pasangan, SPP ini spesialis anak-anak remaja dan dewasa. SPP cenderung ngga sabaran kalau menghadapi balita. Punya masalah tentang kehidupan dan masa depan? SPP jago memberi solusi tanpa nada menggurui. SPP ini juga sangat mengerti tentang sifat pasangannya. Misal si pasangan sedang cranky, pasti SPP sigap merespon, “nih kasih sangu, sana ke mall biar ceria” ihihihihi. SPP juga sabar banget. Waktu naik Fuji, si pasangan berjalan dengan manjanya (baca: lelet), SPP sabar menunggu. Bahkan ketika turun gunung dan sampai di stasiun 6, SPP ngajak naik kuda ketimbang jalan. Padahal si pasangan udah melarang karena mahal. Tapi SPP bilang, “daripada kamu kecapekan”.

SPP juga perhatian sekali dengan anaknya. Kukunya item dikit pasti langsung digosok kinclong oleh SPP. Tengah malam, SPP selalu menggendong anaknya ke toilet. Supaya ngga kencing batu katanya. Hal-hal kecil yang nampaknya ngga penting, ternyata diperhatikan sekali oleh SPP. Ia sering pergi berdua saja dengan si anak. Ke museum atau mengeksplorasi alam.

Pemikiran SPP sangat terbuka. Dia bukan orang yang judgemental. Pasti ada alasan dibalik setiap tindakan, begitu falsafahnya. SPP punya kelebihan khusus. Ia sangat lihai membaca raut wajah dan nada bicara. Jadi agak sulit berbohong di depannya. SPP suka bercanda meski kadang-kadang berbau sarkasme. Untung si pasangan cukup sabar menghadapi sifatnya yang satu ini.

SPP dan anaknya adalah anugerah terindah bagi si pasangan. Menjalani hidup terasa mudah dengannya. Si pasangan selalu berdoa agar SPP bisa mewujudkan semua mimpi-mimpinya. Kecuali mimpi horor dikejar hantu =D. Akhir kata, I love you SPP!