Kuliah

Sampai sekarang, gw selalu iri dengan suami yang menurut gw, berhasil menentukan minatnya sejak awal. Sejak S1, S2 dan S3 selalu berkecimpung di dunia komposit. Ngga heran kalau pengetahuan dan pengalamannya di bidang ini sangat mumpuni. Bisa dibilang, dia salah satu ahli komposit di Indonesia.

Sebaliknya, dari dulu sampai detik ini, gw masih galau menentukan apa minat dan bakat gw sebenarnya. Karena minimnya info kala itu, juga karena pergaulan yang kurang luas, gw ngga bisa menentukan karir apa yang ingin gw jalani. Kalau sekarang bekerja di bidang keuangan, gw merasa hal ini dikarenakan telanjur basah, nyemplung aja sekalian.

Kalau ditanya mau jadi apa setelah SMA, mungkin kebanyakan anak-anak SMA akan menjawab ingin jadi dokter, insinyur, polisi. Jurusan-jurusan mainstream. Ngga salah juga punya keinginan seperti itu. Yang kurang tepat, jika mengambil bidang-bidang tersebut karena kurangnya pengetahuan akan minat dan bakat kita.

Idealnya, bekerja itu harus sesuai dengan minat. Sehingga kita bisa bekerja dengan senang dan tanpa beban. Kenyataannya, kadang bidang yang kita ambil dipengaruhi oleh orang tua, teman atau lingkungan. Dan ketika sudah bekerja sekian lama, timbul rasa bosan atau ketidakcocokan dengan bidang yang kita ambil.

Bagi yang masih duduk di bangku SMA, gw sangat menyarankan untuk menentukan minat dari sekarang. Mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang jurusan kuliah di berbagai universitas di dalam dan luar negeri. Hapus pola pikir bahwa orang yang sukses adalah mereka yang menjadi dokter, insinyur, arsitek, pengacara dan pekerjaan mainstream lainnya.

Ada jurusan-jurusan non mainstream yang menjanjikan pekerjaan yang bergaji tinggi jika ditekuni secara bersungguh-sungguh. Misalkan S1 jurusan sulam menyulam, jurusan herbal, jurusan tekstil, jurusan musik, dll. Menurut gw, pilihan yang spesifik dan lebih kearah keahlian, membuat kita mampu bekerja tanpa batas usia. Misalkan dengan memilih jurusan sulam-menyulam, kita bisa membuka kursus, menjadi guru menyulam. Dengan memilih menjadi herbalist, kita bisa membuka bisnis minuman herbal.

Kadang orang yang bekerja di perusahaan, tidak bisa bekerja produktif lagi ketika pensiun. Hidup seperti berjalan di tempat karena pengetahuan yang mereka dapat selama di tempat kerja, tidak bisa lagi diaplikasikan di tempat lain. Orang yang tidak bekerja kadang merasa seperti tidak ada tujuan lagi. Hidup menjadi monoton dan membosankan. Jadi, bekerja dan mempunyai keahlian yang spesifik, banyak memberi keuntungan. Ayo, banyak-banyak mencari informasi, jangan galau menghadapi masa depan.

 

 

Advertisements

Selingkuh

Belakangan ini banyak sekali berita-berita tentang pelaku selingkuh di media sosial. Mulai dari artis sampai orang biasa. Mulai dari berita jambak-jambakan sampai tebar-tebar uang. Bukan hanya berita selingkuh, berita seperti orang tua dibuang anaknya, berita anak-anak kecil mabuk obat, berita bayi pengemis dan berita negatif lainnya, kadang bikin gw jadi berkecil hati tentang nasib bangsa ini.

Ada pepatah yang mengatakan bahwa laki-laki bisa jatuh karena harta, tahta dan wanita. Harta karena korupsi, tahta mungkin karena jabatan politik (?) dan wanita karena selingkuh. Gw akan mengangkat topik yang terakhir.

Dari hasil browsing-browsing, disebutkan bahwa laki-laki yang doyan selingkuh biasanya punya masalah di masa kecil seperti kekurangan kasih sayang dari orang tua, terutama ibu; perceraian orang-tua atau keluarga dekat; masalah kepercayaan diri. Untuk yang wanita partner selingkuh/pelakor biasanya mereka adalah wanita yang tingkat insecuritynya tinggi, wanita yang punya luka emosional, atau wanita-wanita pemalas yang hanya mau sesuatu yang instant. Mau kaya tanpa bersusah payah membangun semua dari awal.

Di antara semua sebab-sebab itu, yang paling utama yang menyebabkan orang untuk berselingkuh adalah kurangnya iman, kurang bersyukur dan kurang empati. Mereka gagal menempatkan Tuhan dalam tindakannya dan tidak bisa menempatkan diri di posisi pasangan/keluarga yang disakiti.

Mereka juga delusional. Gagal menyadari bahwa cinta itu tidak menyakiti. Yang ada hanya nafsu yang membabi-buta. Kecenderungan orang yang berselingkuh adalah berzina. Mereka lupa bahwa Allah menyatakan dalam Al-Quran bahwa zina adalah seburuk-buruk jalan dan suatu perbuatan yang keji. Hukumannya bagi yang sudah menikah adalah rajam, yang masih lajang adalah dera sebanyak 100 kali. Jika perbuatan itu tidak mendapat balasan di dunia, tinggal tunggu saja hukumannya di akhirat.

Selingkuh menurut gw ngga membawa faedah, hanya akan membawa kerusakan. Keluarga hancur berantakan, dan nama baik yang hilang. Saran gw bagi yang suka selingkuh atau berniat untuk selingkuh, baiknya renungkan dalam-dalam. Pernikahan bukan untuk main-main. Mempermainkan pernikahan sama saja mempermainkan janji suci yang diucapkan dihadapan Tuhan. Jangan lupa, Tuhan Maha Segalanya. Ia Maha Melihat, Maha Pembuat Perhitungan dan Maha Pemberi Balasan.

Untuk para pelakor, apa sih yang didapat dari laki-laki yang sudah berkeluarga? Uang? Cinta? Tuhan menyuruh kita untuk mencari sesuatu yang halal. Uang yang halal, cinta yang halal. Kalau bisa berbahagia dari menyakiti orang lain, gw cuma bisa bertanya…situ sehat?

Pe-er buat kita para ibu adalah mendidik anak-anak kita, jika laki-laki untuk menjadi laki-laki yang shalih. Yang tau untuk menundukan pandangan, menundukan nafsu dan menjadi ayah dan suami yang baik untuk keluarganya. Untuk anak perempuan, untuk menjadi perempuan shaliha, untuk menjaga kehormatan dirinya dan keluarganya. Jangan lupa untuk banyak-banyak berdoa supaya keluarga kita dijauhkan dari perbuatan selingkuh.

Untuk wanita korban selingkuh, jika pernikahannya tidak bisa diselamatkan, ingat kalam Tuhan bahwa, “laki-laki baik-baik untuk perempuan baik-baik dan sebaliknya”. Hidup hanya sekali, jalani dengan kekuatan dan kesabaran. Tuhan mboten sare. La Tahzan, Innallaha Ma’ana.

 

 

 

 

Rumah Mungil di Tepi Danau

Rumah mungil di tepi danau. Berlantai kayu, dindingnya bercat putih tulang. Kamarnya ada dua, kamar mandi di masing-masing kamar, lengkap dengan pemanas air. Ada kebun kecil di belakang, ditumbuhi melati dan wijaya kusuma. Mengenang masa kecil, menunggu bunganya mekar di tengah malam.

Rumah mungil di tepi danau. Dapurnya kecil namun lengkap. Bisa untuk memasak dan membuat kue. Barang-barangnya tak banyak tetapi penuh nuansa etnik. Karpet Persia dan Turki menghampar di sana-sini. Lampu-lampu unik, keramik dan mosaik menghiasi dindingnya.

Rumah mungil di tepi danau. Ketika hujan, pemiliknya duduk di beranda kebun, tangannya sibuk menyulam sambil sesekali meneguk teh beraroma chamomile. Memandang tetesan hujan dan menghirup bau tanah yang basah.

Rumah mungil di tepi danau. Foto dan lukisan, buku-buku, hijau tanaman dan bunga-bunga, serta magnet dari berbagai penjuru dunia.

Rumah mungil di tepi danau. Semoga.

Keluarga Berencana

Menurut gw, orang Indonesia itu basa-basinya ngga jauh-jauh dari urusan ranjang. Kalau orangnya masih muda, biasanya ditanya sudah berkeluarga atau belum. Kalau ketahuan jomblo, langsung dikejar kapan nikah. Kalau sudah nikah, berlanjut ke urusan kapan mau punya momongan. Kalau anak baru satu, lantas lanjut ke pertanyaan kapan mau anak kedua, ketiga dst. Anaknya perempuan semua, digoda untuk punya anak lelaki, begitu sebaliknya.

Gw sih sudah kebal menghadapi pertanyaan kapan mau punya anak lagi. Dalam ilmu ekonomi ada teori yang namanya Diminishing Marginal Utility. Bertambahnya kuantitas, bukan malah menambah kenikmatan/kualitas tetapi malah menguranginya. Seperti minum air di saat haus berat. Tegukan pertama mempunyai nilai tertinggi dibandingkan tegukan kedua, ketiga dan seterusnya.

Entah ya, sampai saat ini belum ada sama sekali keinginan buat tambah anak. Buat gw, semua orang harus bisa bercermin kepada dirinya masing-masing. Bertanya dan mengukur kemampuannya.

Anak bukan investasi.

Kadang atau banyak (?) orang tua yang menganggap anaknya sebagai investasi atau untuk balas budi. Tujuannya supaya kalau tua, ada yang merawat dan menghidupi. Mereka lupa bahwa anaknya tidak pernah meminta untuk dilahirkan. Kita yang menginginkan mereka ada. Maka, jangan berharap apapun kepada mereka. Bersyukur bahwa Tuhan mengabulkan keinginan kita untuk dikaruniai keturunan yang menjadi penerus kita di bumi ini.

Kalau sang anak nanti pergi jauh, tidak menetap dan berkumpul bersama orang tuanya. Ikhlaskanlah. Jangan belenggu kebebasannya demi ego orang tua.

Selama sang anak masih bersama-sama kita, nikmati setiap detiknya karena tak lama lagi, ia harus pergi meninggalkan sarangnya. Belajar sebanyak-banyak dari kehidupan. Bebaskan, beri kesempatan ia belajar, berkelana sebanyak-banyaknya.

Sumber Daya yang Terbatas.

Kita semua tahu bahwa sumber daya alam itu terbatas. Katakan kota A dengan sumber dayanya, ia hanya mampu menanggung 100,000 jiwa. Dengan 100,000 jiwa, penduduknya bisa menikmati pendidikan gratis, kesehatan gratis, subsidi untuk kebutuhan sandang, pangan, papan.

Sekarang jika jumlah penduduk di kota A naik 2, 3, 5 atau bahkan 100 kali lipat, kualitas hidup terpaksa dikorbankan. Sekolah mahal, biaya kesehatan mahal, susah dapat kerja, dll. Siapa yang salah?

Pendidikan dan bahasa Inggris.

Satu-satunya cara untuk meningkatkan taraf hidup adalah dengan pendidikan. Mau bermimpi jadi konglomerat dengan ijasah SD di jaman sekarang rasanya sangat konyol. Gw ngga bilang mustahil, karena Tuhan Maha Segalanya. Tapi kebanyakan orang, mereka yang berkecukupan rata-rata adalah mereka yang berpendidikan tinggi.

Hari gini, bahasa Inggris itu wajib dikuasai. Indonesia jauh tertinggal dibanding negara-negara tetangganya yang mengadopsi bahasa Inggris sebagai bahasa akademik dan bahasa bisnis. Buang jauh-jauh rasa bangga yang berlebihan terhadap bahasa Indonesia, sampai-sampai merasa tak perlu belajar bahasa Inggris di sekolah.

Di tempat gw sekarang, pekerjanya rata-rata berasal dari negara-negara yang berbahasa Inggris. Banyak suster, staff dan supir dari Filipina, staff IT dan pekerja-pekerja dari IPB (India, Pakistan, Bangladesh), pengajar dan peneliti dari negara-negara Barat bahkan banyak pelajar dari Cina. Indonesia hanya dikenal sebagai negara pengekspor pembantu. Bahkan pembantu dari Filipina bergaji lebih tinggi dari pembantu Indonesia. Alasannya karena mereka berbahasa Inggris.

Jujur saja kadang gw malu kalau ditanya negara asalnya. Rasa bangga gw pudar perlahan-lahan. Apa yang mau dibanggakan selain alam dan makanannya? Korupsi nomor wahid, kotor dan macet di mana-mana, mau ke mana-mana mesti pakai visa. Kadang-kadang rasanya mau ganti warga negara saja ;P

Kualitas pendidikan di Indonesia masih sangat rendah. Banyak yang tidak bisa baca-tulis. Tidak ada standar baku yang diterapkan di semua sekolah-sekolah di Indonesia. Harusnya banyak guru-guru dan dosen-dosen disekolahkan ke luar negeri. Banyak beasiswa disediakan untuk anak-anak berprestasi. Banyak dana riset digelontorkan kepada peneliti-peneliti di universitas. Berikan bonus kepada peneliti yang berhasil mempublikasikan hasil karyanya di jurnal-jurnal internasional yang bergengsi.

Sekolahkan anak di sekolah terbaik. Mahal? Sudah pasti. Itulah konsekwensi punya anak. Bayar les mahal? Tentunya. Lagi-lagi, ini konsekwensi punya anak. Maka dari itu, pikirkan baik-baik dari awal. Hendak menikah atau melajang. Hendak mempunyai anak atau berdua saja. Tulikan diri terhadap pendapat orang. Jangan ikut-ikutan. Bahagia itu dari diri kita, bukan orang lain yang mendiktenya.

KB dan adopsi.

Memang hak seseorang mau punya anak berapa pun. Tapi jangan harap gw bakal tersenyum manis kalau mendengar atau membaca tulisan seseorang yang pingin bercita-cita punya anak banyak. Syukur-syukur ngga pasang muka jutek ;P. Indonesia sudah kebanyakan penduduk!!! Lebih baik cita-cita mulia itu dialihkan kepada hal-hal lain yang jauh lebih mulia. Seperti mengadopsi anak-anak yatim piatu di panti-panti asuhan yang haus kasih sayang orang tua. Double rewards. Dapat anak dan dapat pahala.

Buat ibu-ibu dan bapak-bapak, yuk jangan malas ikut KB. Keluarga Berencana bukan berarti harus dua anak saja. Tetapi keluarga yang harus direncanakan dengan matang. Harus berencana bahwa si abang lulus dari Caltech. Bahwa si gadis lulus dari Harvard, bahwa si kakak lulus dari Delft, bahwa si bungsu lulus dari Aachen, dan sebagainya-dan sebagainya.

Keluarga yang harus berencana bahwa si abang, gadis, kakak dan bungsu terjamin hidupnya selama kuliah di sana, keluarga yang berencana bahwa bapak dan ibu bisa pensiun dengan tenang tanpa harus membebani hidup si abang, gadis, kakak dan bungsu.

Berat? iya. Pastinya lebih berat ketimbang mengangkat sarung. Jadi pikirkan semuanya masak-masak!

Jalan-jalan ke Turki

Jalan-jalan kali ini sebenernya ngga direncanakan. Suami kebetulan hendak pergi seminar ke luar dan harus memproses exit re-entry visa. Supaya efisien, dia juga memproses visa untuk gw dan anak supaya jika kita pergi ke luar Saudi, ngga perlu report-repot untuk urus visa masuk kembali. Ternyata, kebijakan dari KAUST, jika visa exit re-entry sudah ditangan, dalam waktu 90 hari kita diharuskan keluar dari Saudi untuk sementara. Jika dilanggar, kena denda 1,000 sar per orang. Ketimbang bayar denda, lebih baik uangnya digunakan untuk beli tiket ;P

Pilihan yang paling mudah adalah pergi ke negara tetangga terdekat. Bisa melipir ke Bahrain, ke Dubai, Abu Dhabi, termasuk ke Turki. Setelah dipikir-pikir, Turki nampaknya adalah pilihan yang paling menarik. Banyak museum, dekat laut, dan hanya 3.5 jam perjalanan.

Setelah googling sana-sini, kita putuskan untuk pergi ke Cappadoccia dan Istanbul. Sengaja pergi hanya membawa backpack supaya praktis ketika di bandara. Tujuan utama ke Cappadoccia adalah naik balon udara. Kita mendarat di Cappadoccia sore hari dan tepat sebelum matahari bersinar, rencananya sudah naik balon udara. Kita menginap di Harman Cave Hotel. Pelayanannya baik, wi-fi kencang namun tidak ada restoran di dalam hotal. Terpaksa ngga makan malam karena restoran di hotel sebelah sudah penuh dan baru bisa melayani di jam yang sudah terlalu malam. Tengah malam, tiba-tiba terbangun gara-gara dengar bunyi hujan dan halilintar. Wah gawat, alamat batal naik balon udara. Cek ramalan cuaca, ternyata bakal ada badai dari malam sampai esok hari. Jam empat pagi, dibangunkan untuk segera pergi ke tempat makan milik perusahaan balon udara. Kita sarapan di sana sambil terus memantau perkembangan cuaca terakhir. Sampai jam 6 pagi akhirnya dengan terpaksa semua penerbangan dibatalkan karena BMG-nya Turki tidak mengijinkan penerbangan karena cuaca buruk.

Karena keinginan naik balon udara masih menggebu, kita berusaha untuk menginap satu malam lagi di Cappadoccia dan mengontak semua perusahaan balon udara di sana. Namun semua sudah penuh dan tidak menerima pesanan lagi. Jadi, kalau berencana ke Cappadoccia, cek ramalan cuaca karena cuaca di Cappadoccia bisa berubah-ubah sewaktu-waktu. Jangan tinggal di sana hanya semalam atau dua malam dan booking perusahaan balon untuk semua hari tersebut. Jika gagal terbang di hari pertama, setidaknya masih ada kesempatan di hari berikutnya.

Pagi hari setelah badai, siang harinya ternyata cuaca cerah ceria. Sayangnya selama musim panas, penerbangan balon hanya sekali sehari. Akhirnya sebagai pelipur lara, kita sewa taksi untuk mengantar kita keliling Cappadoccia. Dari beberapa rute yang ditawarkan, rute merah lah yang dipilih. Jalurnya melewati Uchisar (tempat tertinggi di Cappadoccia), Cavusim (gua batu dan beberapa tempat bersejarah sepeti masjid dan gereja yang dibangun di masa lampau), Avanos (makan siang dan ke museum keramik), Urgup, Goreme, dll.

Sore hari kita menuju ke Istanbul dan tinggal di daerah Sultanahmet, dekat stasium Camberlitas. Letaknya sangat dekat dengan tempat-tempat populer seperti Hagia Sophia, Blus Mosque, Basilica Cistern dan Topkapi Palace. Selain mengunjungi tempat-tempat tersebut, juga naik kapal menyebrangi selat Bosphorus dan pelesir di daerah Taksim. Kita sangat menikmati Istanbul. Kota yang cantik dan banyak pernak-pernik menarik yang sungguh menggoda untuk dibeli. Apalagi kalau lihat permadani Tuki yang banyak dipajang di etalase toko, duh..pingin beli semuanya. Tanya-tanya harganya, kisarannya ribuan dolar untuk karpet yang dibuat dari serat sutera atau campuran sutera dan wol. Yang paling terkenal adalah permadani buatan Hereke. Akhirnya kita memutuskan untuk membeli kilim ukuran kecil dengan harga yang JAUH lebih bersahabat. Harga ini didapat setelah 1 jam lebih bernegosiasi sambil disuguhi teh apel khas Turki. Ada juga keramik yang cantik-cantik. Saran gw, lebih baik beli keramik di workshopnya karena buatannya asli dari tempat tersebut. Kalau beli di pasar atau tempat belanja, takutnya dapat keramik buatan Cina. Sayang kan?

Kita juga sempat nonton film di bisokop. Kebetulan ada bioskop yang letaknya tidak jauh dari hotel. Harga tiketnya kalau tidak salah 11 lira. Film yang diputar adalah Jurasic World dan film-film horor ala Turki. Yang unik dari nonton film di Turki, ada istirahat selama 5 menit ditengah-tengah film. Mungkin maksudnya memberi waktu bagi orang yang ingin ke toilet atau merokok sebentar.

Yang paling berkesan dari perjalanan ke Turki adalah kesempatan untuk berkungjung ke Sultahmed Mosque/Blue Mosque. Dulu sewaktu kerja di Sinagpura, ada kalender meja yang gambarnya berbagai tempat populer di berbagai negara. Salah satunya foto Blue Mosque. Setiap lihat foto itu, selalu berharap suatu saat bisa pergi ke sana. Ternyata delapan tahun kemudian, Tuhan mengabulkan keinginan gw.

Oleh-oleh selain kilim tentu saja berbagai macam Turkish Delights, kopi dan teh Turki sepeti teh apel, teh delima, teh-bunga-bungaan dan lain-lain. Yum-yum. Makanan Turki agak aneh untuk lidah gw. Yang paling bisa diterima tentu saja kebab. Akhir kata, semoga kapan-kapan bisa kembali mengunjungi Turki lagi, sekaligus membeli permadani Hereke yang terkenal itu ūüėÄ

 10422514_864959023596929_8157483072675608452_n 10437501_864959286930236_3476292739291704893_n 10511234_864959590263539_5283834179873844532_n 10988511_864958920263606_7193824566858205334_n 11011473_864959470263551_603537461329109531_n 11050250_864959366930228_850390089918771643_n 11180320_864959410263557_3004795844908183849_n 11181690_864959696930195_779759648973015619_n 11207347_864959430263555_9104583306619782329_n 11244579_864959310263567_7410734265401097906_n 11257961_864958953596936_5797714076674771888_n 11535677_864959476930217_7774371193538172218_n 11535917_864959250263573_711542806430029569_n                                      10986564_864959510263547_6399862114864542573_n

Setahun di KAUST

Ngga terasa sudah setahun kita hijrah ke ‘negara’ KAUST. Kalau biasanya lewat satu tahun, gw mulai gerundelan ini-itu, alhamdulillah satu tahun di sini gw merasa sangat bersyukur, bahagia, tenang, bahkan punya perasaan ngga mau pindah. Betah..betah..betah. Selama KAUST masih seperti ini, gw pingin terus di sini ūüôā

Hidup dalam komunitas kecil itu lebih enak. Lebih tertata dan lebih sedikit masalah. Kemarin sempat ada masalah dengan asupan air bersih dan listrik. KAUST memang tidak siap dengan hal-hal darurat tetapi presidennya cepat tanggap dalam menyelesaikan masalah.

Setahun di sini, kita mulai hapal kota Jeddah. Setidaknya tau di mana tempat buat makan pecel lele, sate ayam, bakso, nasi goreng, pempek, meski salah satu tempat itu baru saja kena garuk polisi karena berada di taman umum yang terlarang buat berjualan. Sedihnya ;(

Tinggal di KAUST yang notabene berada di provinsi Mekkah, berarti dekat dengan Ka’bah. Kalo kangen tinggal naik bis, gratis dan nyaman. Ngga mau uyel-uyelan, tinggal datang pas umrah lagi ditutup buat jamaah luar negeri. Lega dan kesempatan buat cium Hajar Aswad juga besar. Minum zam-zam sepuasnya. Duh, nikmat tiada tara.

Anak juga sudah terbiasa dengan sekolah dan teman-temannya. Cuma ibunya yang kurang terbiasa. Di Jepang biasa dengan pe-er yang banyak, buku yang banyak, rapat dan kegiatan sekolah. Di sini pe-ernya via aplikasi di tablet. Gurunya bisa ngecek hasilnya dan memantau perkembangannya. Belajar kebanyakan lewat komputer (semua anak dapat iMac di sekolahnya) dan foto kopian. Dan belajar dengan diskusi, diskusi dan diskusi. Tetapi biar  bagaimana pun, gw sangat bersyukur. Sekolah gratis dan fasilitasnya bagus.

Hal lain yang mulai berubah dari ritme hidup gw adalah mulai kerja full time. Gw sudah ngalamin semuanya. Mulai dari single bekerja, ibu rumah tangga, ibu bekerja dengan asisten rumah tangga, ibu rumah tangga dan kerja paruh waktu, dan ibu bekerja tanpa asisten. Dari semuanya, yang paling berat adalah ibu bekerja tanpa asisten. Rasanya seperti jadi superwoman. Pagi siap-siap, kerja, jemput anak, masak, nemenin anak belajar sebentar terus tidur. Teler. Untungnya punya suami yang top markotop. Telaten nemenin anaknya belajar, pengertian kalo istrinya lagi ngga masak karena kecapekan ato ngga mood :P, pipisin anaknya tengah malem, ngurusin anak dan bahkan masak kalo gw mesti lembur pas weekend. Jempol deh. KAUST juga memberi support untuk para single parent, keluarga tanpa asisten seperti kita untuk bisa bekerja dengan tenang. Ada day care dan penitipan anak bagi anak yang mulai besar.

Yang pasti, hidup di KAUST lebih banyak sukanya ketimbang sebelnya. Lebih banyak bahagianya ketimbang sedihnya. Selama ada KAUST, ada sambal mbak Wita, ada pistachi mammoul, ada jadwal nge-mall seminggu sekali, gw ngga punya alasan buat ngedumel.

Happy 1 year KAUSTiversary to us.

Semoga tahun mendatang lebih baik lagi, semoga Tuhan terus melimpahi karunianya kepada kita semua. Amien.

Umrah

IMG_2196Salah satu keuntungan tinggal di KAUST adalah kita bisa pergi umrah setiap minggu. Bahkan untuk minggu kedua dan keempat, bisa dua kali umrah dalam seminggu. Bulan lalu kita pergi umrah untuk pertama kalinya. Sebenarnya rencana awal hanya shalat di Masjidil Haram sambil melihat-lihat kondisi di sana. Tetapi akhirnya kita memutuskan untuk umrah sekalian karena ada teman yang berbaik hati untuk meng-guide kita selama umrah.

Gw cepat-cepat beli ihram karena bis ke Mekkah mau berangkat selepas shalat Jumat. Sayangnya ihram untuk anak-anak ngga dijual di supermarket dalam kompleks. Harus beli di Jeddah. Terpaksa olit ngga pakai pakaian ihram ketika umrah.

Ngga bisa diungkapkan dengan kata-kata pertama kali gw melihat Ka’bah. Begitu agung dan begitu dekat. Alhamdulillah ya Rabb bisa mendapatkan kesempatan untuk melihat rumahMu, shalat di masjid teragung, berada di kota suci. Alhamdulillah..alhamdulillah..alhamdulillah.

Ternyata ibadah umrah tidak terlalu memakan waktu terlalu lama. Thawaf diselesaikan dalam waktu sejam, begitu pula sa’i. Jadwal kita kemarin adalah sampai di Masjidil Haram sekitar jam setengah empat, lalu makan sore. Lanjut shalat ashar, baru mulai thawaf yang berakhir pas ketika adzan maghrib. Sehabis shalat maghrib, lanjut sa’i, dan berakhir saat adzan isya. Selepas isya, kita makan malam sambil menunggu bis pulang kembali ke KAUST.

Dari perjalanan kemarin, gw ingin memberi sedikit saran jika berumrah  :

  • Sebaiknya memakai masker ketika berumrah. Karena kita akan berada di antara ratusan, atau mungkin ribuan manusia dari berbagai negara. Banyak dari mereka yang bersin, batuk dengan seenaknya. Salah satu teman pernah bilang kalau di kampus mulai banyak orang yang batuk-batuk, itu artinya ada dari mereka yang baru saja pergi ke Mekkah.
  • Bagi yang membawa anak kecil atau orang berusia lanjut, sebaiknya umrah dilakukan petang hari. Karena tidak semua orang kuat berdesak-desakan ketika thawaf di bawah terik matahari.
  • Thawaf tidak harus dilakukan dari lantai dasar. Jika terlalu sesak, bisa dilakukan dari lantai dua. Sebaiknya mereka yang membawa anak kecil dan orang lanjut usia, berthawaf di lantai atas.
  • Sebelum umrah dimulai, sebaiknya selesaikan semua hajat besar dan kecil di toilet mall dekat Masjidil Haram. Juga sekalian berwudhu. Karena gw ngga merekomendasikan toilet umum di sekitar masjid. Selain antrinya panjang, kurang higenis juga.
  • Sebaiknya umrah dan haji dilakukan ketika kita masih muda. Jangan menunggu sampai tua baru berhaji. Kecuali kalau keadaan belum memungkinkan. Sebab kita harus berdesak-desakan, berpanas-panasan (jika dilakukan siang hari), berkumpul dengan beribu-ribu orang yang tidak semua dari mereka dalam kondisi sehat, berjalan jauh, dll. Ketimbang nanti ketika beribadah malah jatuh sakit, sebaiknya berhaji atau berumrahlah ketika kondisi kita masih kuat.

ps. yang ini saran bagi mereka yang sudah berangkat haji dari Indonesia, sebaiknya tahan keinginan untuk berhaji lagi. karena banyak dari saudara kita yang ingin berhaji untuk pertama kalinya, harus menunggu lama untuk mendapatkan kesempatan itu. berempatilah, beri kesempatan bagi mereka. jika ingin kembali ke tanah suci, lebih baik berumrah saja.