Kejujuran itu ‘murah’ harganya

Di pojok kedai dekat stasiun, ada kue berkemas plastik yang ditaruh begitu saja di atas meja dengan tulisan 100 yen per 3 buah. Sebuah kotak kecil disediakan untuk menaruh uang. Pembeli hanya menaruh uang dan mengambil kue sesuai jumlah uang yang dibayarkan. Tak ada pelayan, tak ada penjaga, tak ada kamera pemindai. Hanya pembeli dan Tuhan saja yang tahu. Sewaktu pertama kali melihatnya, meja ini dipenuhi kue. Tapi sekarang, kue yang dijual sudah hampir habis. Berapa banyak uang yang ada di kotak? Apakah jumlahnya sesuai dengan kue yang habis dijual? Tentu saja gw  ngga tau. Tapi baru pertama kali dalam hidup, gw melihat cara penjualan yang unik seperti ini. Semua hanya berlandaskan kepada : KEJUJURAN.

Kemungkinan untuk mengambil kue tanpa membayar tentu saja sangat sangat memungkinkan. Itu semua bergantung kepada nurani dan taraf kejujuran orang tersebut. Di Jepang, nampaknya jumlah orang jujur masih lebih banyak dari sebaliknya. Dari pengalaman pribadi, semua barang-barang yang hilang (biasanya akibat keteledoran gw), bisa ditemukan di tempat di mana barang itu ditinggalkan. Ambil contoh ketika sarung tangan jatuh ketika bersepeda, sewaktu mencoba merunut kembali rutenya, maka sarung tangan itu bisa ditemukan di tempatnya terjatuh. Pernah juga sewaktu gw pergi ke taman dan menemukan kalung yang indah, ketika gw menanyakan kepada orang di sekitarnya apakah itu kalung miliknya, dia menjawab bukan dan membiarkan kalung itu tetap berada di sana sampai pemiliknya menyadari dan mengambilnya. Dari cerita yang gw dengar, bahkan di kereta sekalipun, barang-barang yang tertinggal sebagian besar banyak yang bisa ditemukan kembali. Cukup menghubungi bagian lost & foundnya. Andai saja hal ini bisa terjadi di Indonesia *mimpi*.

Orang Jepang tidak beragama. Orang Indonesia mayoritas beragama. Tapi kenapa orang yang tidak beragama, perilakunya lebih baik dari yang mengaku beragama? Sampai-sampai ada joke yang mengatakan bahwa orang Jepang itu sudah Islam, hanya saja belum syahadat. Sedang orang Indonesia, sudah syahadat tetapi belum Islam. Kadang gw berpikir bahwa agama saja tidak cukup untuk membuat seseorang berperilaku baik. Sejak dini, orang Jepang dididik untuk selalu memikirkan orang lain sebelum dirinya sendiri. juga untuk selalu mengucapkan ‘terima kasih (arigatou gozaimasu), maaf (gomen nasai/sumimasen) dan tolong (onegai shimasu/kudasai). Anak perempuan yang paling cantik bukan yang wajahnya blasteran indo tetapi yang paling sering tersenyum. Di Indonesia, gw baca kompas hari ini, menyatakan bahwa 80% anak indonesia berpikiran negatif. Apa yang salah dari sistem di Indonesia? jawabannya pastilah banyak sekali. Yang pasti, alasan utamanya menurut gw, karena hukum bisa dibeli. andai hukum bisa ditegakan sebenar-benarnya, setidaknya banyak maling yang bisa ditangkap, banyak calon maling yang akan berpikir berkali-kali untuk melakukannya. dan anak-anak indonesia lama kelamaan tak akan berani menjadi maling. dan suatu saat kejujuran pun murah harganya..cukup 100 yen saja. 

 

 

 

One thought on “Kejujuran itu ‘murah’ harganya

  1. hihihi….baru tahu ya,,,,inilah Indonesia..kadang ingin berjuang buat negeri ini, namun keraguan melanda hati….

    ternyata problem besar masih bersarang kuat…dan memang sampai kapan..hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s