opini : Ibu Rumah Tangga Terampil (IRTT)

Tidak terasa 3.5 tahun dari hampir 5 tahun saya mempunyai anak, saya mengasuhnya tanpa pembantu. Bangga? Tentu saja! Karena tidak semua ibu bisa mendapat privileged untuk mengasuh anaknya sendiri. Ada yang disebabkan oleh keadaan, ada juga murni karena keputusan sang ibu sendiri. Untuk yang pertama, saya bisa memaklumi. Tetapi yang kedua, saya cuma bisa angkat bahu, ngga ngerti.

Menjadi ibu rumah tangga (IRT), berarti saya melepaskan kesempatan untuk bekerja secara formal dan tidak mempunyai penghasilan. Karena saya pernah bekerja selama 7.5 tahun, menjadi seorang IRT yang tidak berpenghasilan membuat saya perang batin. Biasa mempunyai uang sendiri, mandiri, sekarang harus bergantung kepada suami. Nampaknya ijasah sarjana saya tidak punya kekuatan apa pun saat ini. Di sinilah saya mulai melihat bahwa seharusnya, semestinya, saya membekali diri dengan keterampilan yang bisa mendatangkan uang.

Bayangkan jika saya bisa menjahit sejak kecil, bayangkan jika saya jago memasak sejak kecil, bayangkan jika saya pintar merangkai bunga sejak kecil, bayangkan jika saya belajar menari sejak kecil, bayangkan jika saya senang melukis sejak kecil, bayangkan jika saya bermain musik sejak kecil, bayangkan jika saya belajar banyak bahasa sejak kecil, bayangkan jika saya belajar menata rambut sejak kecil, BAYANGKAN JIKA SAYA TERAMPIL SEJAK KECIL.

Tapi saya bukan anak kecil lagi dan saya tidak terampil. Dua kondisi yang saya sesali. Seharusnya predikat IRT tidak membuat saya kehilangan pendapatan. Seharusnya saya bisa mencoba usaha apapun itu asalkan halal. Sayangnya saya tidak pernah diajarkan untuk berdagang. Saya tidak diajarkan pentingnya menjadi terampil. Saya tidak menyalahkan orang tua saya, saya menyalahkan diri sendiri karena baru sekarang saya sungguh-sungguh menyadari pentingnya memiliki keterampilan itu untuk bertahan hidup tanpa harus mengorbankan anak.

Jadi bagi para ibu, sekaranglah saatnya memberikan pendidikan keterampilan kepada anak-anak kita, baik lelaki dan perempuan. Bukan saja untuk bertahan hidup tetapi sebagai tambahan pendapatan. Ijasah saja tidak cukup. Sarjana yang tidak terampil bisa berakhir sebagai pengangguran. Dan untuk IRT yang tidak mempunyai keterampilan apa-apa seperti saya, terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali. Semangat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s