opini : Satu Anak Cukup

Slogan banyak anak banyak rejeki seharusnya diganti menjadi banyak anak banyak masalah. Dari hasil mudik kemarin, saya mengamati bahwa di Jakarta, setiap keluarga idealnya mempunyai satu anak saja, perkecualian untuk mereka yang memiliki pendapatan minimal 30 juta/bulan, boleh menambah anak satu lagi.

Pasti banyak yang tidak sependapat dengan saya jika saya katakan bahwa satu anak saja cukup. Beragam alasan dikeluarkan untuk mematahkan pendapat saya tersebut. Padahal pendapat saya itu dilandasi alasan yang sangat sederhana yaitu UANG.

Untuk mereka yang mempunyai pendapatan maksimal 20 juta/bulan, anak satu sangat ideal. Mengapa? karena uang tersebut akan dialokasikan (dengan asumsi bahwa rumah & kendaraan baru dibeli dengan cara mencicil)  : mencicil rumah 6 juta/bulan, kendaraan 3 juta/bln, keperluan anak (sekolah, les, asuransi) 5 juta/bulan, keperluan bulanan (listrik, air, gas, belanja dapur) 3.5 juta/bulan, tabungan & lain-lain 2.5 juta/bulan.

Masuk akal bukan? Andaikan ada yang bertanya mengapa alokasi untuk keperluan anak harus sebesar itu? Toh kita bisa menciutkan nilainya dengan memangkas biaya ini-itu. Alokasi tersebut saya buat dengan pertimbangan bahwa sekolah anak adalah sekolah yang baik dan pantas. Mengapa saya katakan baik dan pantas? Silahkan bandingkan sekolah negeri di pinggiran jakarta yang minim fasilitas dengan sekolah swasta yang penuh fasilitas. Misalkan si anak mempunyai IQ rata-rata 120, logikanya, dengan masuk ke sekolah yang mempunyai fasilitas dan guru-guru yang berkualitas, hasilnya tentu saja lebih baik jika si anak disekolahkan di sekolah kedua. Kalaupun ada contoh yang anomali, saya bisa pastikan itu karena campur tangan Tuhan.

Yang kedua, les. Kebanyakan orang tua, hanya memasukan anaknya ke tempat les yang mengajarkan pelajaran di sekolah. Karena mereka takut anaknya tidak bisa berkompetisi dengan teman lainnya. Mereka cenderung mengesampingkan pentingnya minat dan bakat anak. Ketika anak masih kecil, tentu kita tidak bisa serta merta melihat bakat dan minatnya. Kewajiban kita sebagai orang tua adalah memberikan kesempatan baginya untuk menemukan bakatnya. Di sinilah pentingnya kita memasukan anak kita ke tempat-tempat les seperti les musik, les olahraga, les menari, les fisika, les bahasa, dan lain-lain. Dan tentu saja, biaya untuk mengikuti les-les tersebut tidaklah murah.

Asuransi buat saya penting karena kita sebagai orang tua, tidak tahu kapan kita akan meninggal. Asuransi pendidikan, menjamin kelangsungan hidup anak kita dengan bank sebagai penanggung.

Sekarang, bayangkan jika dengan pendapatan yang sama, saya memutuskan untuk mempunyai dua anak. Tentu saja pos anak pertama akan digembosi, bahasa suami saya ‘anak pertama akan didholimi hanya karena keinginan kedua orang tuanya untuk menambah anak’. Ironis bukan?

Kalau harapan anda ‘hanya’ ingin punya anak yang sarjana dari universitas biasa, bisa bekerja sebagai karyawan biasa di perusahaan biasa, dengan pendapatan yang biasa-biasa juga, maka silahkan menambah anak sesuai ukuran anda sendiri. Tetapi saya teringat cerita suami saya yang menyitir Malcolm Gladwell bahwa, RATA-RATA ORANG-ORANG YANG HEBAT ADALAH ORANG-ORANG YANG TERLAHIR DARI KELUARGA KAYA/ SANGAT TERPELAJAR DAN LINGKUNGAN YANG MENDUKUNG. Saya juga teringat liputan di tv tentang Chopin. Di sana diperlihatkan rumah Chopin tinggal. Keluarganya sangat kaya, Chopin tidak perlu bekerja untuk mendapatkan uang. Lingkungan tempat tinggalnya terletak di pegunungan yang indah. Tak heran kalau dia bisa membuat komposisi musik yang sangat indah.

Adalagi cerita tentang Christopher Langan yang mempunyai IQ lebih tinggi dari Albert Einstein. Mengapa kita tidak mengenalnya sebagai ilmuwan mashyur seperti Einstein? Karena Christopher Langan lahir di keluarga miskin (silahkan cek wikipedia). Miskin berarti anda tidak bisa mendapatkan fasilitas seperti mereka yang kaya. Mengapa Steve Jobs bisa membuat Apple menjadi hebat? Karena Steve Jobs terlahir di Silicon Valley. Bayangkan jika Steve Jobs lahir di Ciracas seperti saya, apa jadinya?

Jadi marilah, bagi anda yang baru saja memasuki gerbang perkawinan, saya ingin anda membuka cakrawala pemikiran anda lebar-lebar. Renungkan dan renungkan kembali. Generasi yang berkualitas, seribu kali lebih baik daripada generasi yang menang secara kuantitas. Generasi berkualitas akan menjadi pemimpin bagi generasi kuantitas. Jadi silahkan anda memilih, ingin melahirkan orang besar atau hanya sebagai orang biasa saja.

ps. mohon maaf jika ada yang kurang berkenan dengan tulisan saya ini.

pss. kalau saya jadi presiden, saya akan tubektomi para ibu yang menyewakan anak balitanya untuk dijadikan aksesori mengemis dan akan saya ambil anak yang sudah terlanjur lahir itu untuk dirawat oleh negara

6 thoughts on “opini : Satu Anak Cukup

  1. tidak ada yang namanya kebetulan mbak, Allah sudah menyiapkan rejeki masing-masing untuk anak kita😉,,,, Obama hidup dengan orang tua bercerai dan sempat hidup di Indonesia, namun lingkungan dan pribadi yang kuat menjadikan dia Presiden Amerika

  2. Allah memang sudah mengatur rejeki setiap orang, tapi sebagai orang tua, kita juga wajib melihat kemampuan diri sendiri..jangan lupa, obama berasal dari keluarga akademisi..orang tuanya terpelajar dan berkecukupan.

  3. setuju banget Mba🙂 aku juga decide untuk satu anak saja cukup , walaupun pendapatan kami puji Tuhan sangat cukup bila ingin menambah anak.

    alasan saya karena saya ingin anak saya merasakan kebahagiaan hidup yang sesungguhnya, bila ia ingin kuliah di luar negri akan saya kabulkan , travelling dan pesta pernikahan impiannya pun bisa saya wujudkan.

    selain itu kami bisa merasakan indahnya menjadi orangtua dan tentu saja tetap menjalani hubungan yang seimbang sebagai pasangan . tetap punya waktu untuk diri sendiri.

    dan lagi memberikan anak untuk menjadi teman anak pertama sungguh alasan yang lemah, sibling love is not guaranteed , banyak sekali saya lihat teman2 saya tidak berbicara dengan saudaranya , dan hanya berbicara ketika menyangkut biaya kesehatan dan perawatan orangtua ( u get what i mean kan mba😉 )?

    menurut saya tidak menutup kemungkinan orang yang masa kecilnya struggle bisa survive dan jadi orang hebat, tapi jika mereka bisa memilih pasti mereka ingin masa kecil yang bahagia🙂 .

    bottom line mba, let those nosy people have as many babies as they want but it is our choice to decide what is best for our only child🙂 . ketika nanti mereka iri melihat kita masih bisa jalan2 , merawat diri, memasukkan anak ke college yang ia impikan, memberikannya fasilitas untuk mengembangkqn bakatnya dengan maksimal (les bahasa, musik, balet, dll), it is their lost anyway😉 . your life is your choice, screw other people comments on it🙂

  4. u rock mbak!..di cina, banyak anak perempuan yg excel di banyak bidang (tadinya hanya ditakdirkan sbg istri) karena one child policy. dengan menjadi anak satu2nya, orang tua melakukan dan memberikan yang terbaik bagi anaknya, seperti sekolah setinggi-tingginya, les ini itu. lagi pula, sekolah terbaik masih terletak di amerika atau eropa. butuh dana besar untuk ke sana. kalau anaknya banyak dan penghasilan biasa-biasa..berattt sekali buat mewujudkannya =)

  5. Pimikiran anda berstruktur eropa’an sekali, hebat…
    Tetapi juga harus diperhatikan pada perkembangan dan minat bakat anak tersebut, jangan sampai kita memaksakan anak untuk melakukan hal-hal tersebut. Kalau bisa kita hanya mengarahkan dan memotivasi di saja. Berdo’a dan beribadah juga harus mendukungnya. Agar TUHAN senantiasa mengabulkannya. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s