Sisi lain Jepang

Berdasarkan pengalaman pribadi, tinggal di tempat yang baru bisa dibagi menjadi dua fase. Fase pertama sebagai fase bulan madu. Dan selanjutnya adalah fase setelah bulan madu, atau gw sebut saja fase pencerahan.

Pertama kali tinggal di Jepang, gw melihat Jepang dari sudut pandang suka cita. Di mana pandangan gw terhadap budaya, manusia, dan alam Jepang semuanya bermakna positif.

Fase bulan madu gw terhadap suatu tempat baru biasanya berlangsung selama satu tahun pertama. Kemudian perlahan sirna dan di sinilah saat di mana gw bisa melihat segala sesuatunya lebih jernih dan objektif.

Jepang terkenal akan penduduknya yang sopan, baik budi dan bekerja keras. Ini tidak bisa gw pungkiri. Jika kita membutuhkan bantuan, maka mereka akan berusaha membantu kita sungguh-sungguh. Para penjual memperlakukan pembeli dengan cara sangat terhormat. Salary man (para pria pekerja kantoran) bekerja dari pagi hari sampai tengah malam.

Tetapi Jepang adalah negara yang homogen. Mereka tidak terbiasa terhadap warga asing. Jangan heran jika mereka sering mencuri pandang jika mereka melihat warga asing, misal di kereta, di kafe, di jalan. Kadang gw cuek dengan keadaan ini, kadang gw sensitif. Mungkin gw membandingkan dengan Singapura di mana 1 dari 4 orang adalah warga asing. sehingga mereka cenderung tidak peduli.

Di Jepang, sampah harus dipilah dan dibuang pada hari yang telah ditentukan. Saat awal di Jepang, kita menemukan kantung sampah hijau di depan pintu rumah di mana saat itu seharusnya pembuangan kantung sampah oranye. Kantung sampah itu bukan milik gw. Kantung sampah itu ternyata milik tetangga gw. Tetapi seseorang (entah siapa) menaruhnya di tempat gw. Apakah karena gw gaijin (orang asing) maka ia menganggap gw ngga cukup pintar buat mengerti tentang hari pembuangan dan pemilihan sampah?

Di Jepang, kelompok adalah penting. Misal ibu dari anak tk adalah anggota kelompok ibu-ibu yang berada di bus stop yang sama. Ia juga adalah anggota kelompok kelas anak yang sama. Ia adalah anggota kelompok sekolah anak yang sama. Keterikatan antar kelompok ini sedemikian kuatnya sehingga mereka akan cenderung menutup diri terhadap anggota kelompok lain. Dan gw ngga suka berada dalam kelompok seperti ini. Gw malas ikut nomikai. Buat gw, berteman dengan individu lebih menyenangkan ketimbang berteman antar kelompok.

Orang Jepang sangat menghargai harmonisasi. Mereka cenderung menghindari konflik. Tetapi hal ini tidak menyelesaikan masalah. Kadang masalah perlu konfrontasi sebagai penyelesaian. Dengan menghindarinya, masalah akan tetap ada di sana.

Di Jepang, don’t take everything for granted. Jangan naif. Ada teman yang bilang bahwa mereka mempunyai seribu wajah. Mereka bisa saja manis di depan kita, tetapi dibelakang bergosip, atau menjatuhkan.

Di Jepang, anak-anak kehilangan figur bapak. Mayoritas salary man bekerja sebelum anaknya bangun tidur dan pulang ke rumah ketika anaknya sudah terlelap tidur. Gw menyebut mereka sebagai weekend dad. Dibesarkan oleh ibu, membuat adanya ketimpangan dalam pola pengasuhan. Banyak aktor muda Jepang yang berdandan seperti wanita bahkan mencukur alisnya.

Banyak hal yang gw suka dari Jepang. tetapi ada juga hal-hal yang ngga gw sukai. Masalahnya adalah orang asing sulit untuk membaur sepenuhnya dalam komunitas Jepang yang homogen.

Jika gw harus memilih, tentu saja gw lebih menyukai masyarakat yang heterogen dan melting pot dari berbagai etnis. Dalam hal pembauran,  Singapura dan Indonesia jauh lebih baik dari Jepang.

Jepang harus berbenah. Dengan globalisasi dunia, dengan tren penduduk yang menua, Jepang mau tidak mau membutuhkan warga asing untuk memajukan perekonomiannya.

3 thoughts on “Sisi lain Jepang

  1. salam kenal, wah ad ksamaan sdikit di daerah gw tinggal, gw bru2 pindah d bandung k lampung, orng2 gk tw knpa kyk yg gk suka, stiap brpapasan lewat pdhal gw nyapa n senyum tpi orng.a malah cemberut dan itu bukan stu orng aja, hmpir stiap orng d dket rumah, tpi orng yg rada jauhan malah ramah2 bgt. Dan ttangga sblah gw sring bgt buang sampah d tmpat gw, pas ibu gw lagy blanja sayur d dpan sama ttangga lain, dia ngmng “ini smpah dri mana ya”, ttanga2 lain jwb gk tw trmasuk ttangga sblah, jlas2 saya yg liat dia buang smpah dstu.
    Mungkin orng jpang itu cma menghindari konflik, bukn mslah, mungkin kalo dah kena mslah, bkal mreka sleseikan.

  2. ??? indonesia tidak jauh lebih baik. saya orang sederhana dan berkecukupan tinggal belasan tahun di daerah Tangerang kota. kemudian mulai bermunculan rumah rumah gubuk disekeliling rumah yang entah pindahan dari mana. ayah saya kerja keras membanting tulang selama belasan tahun menjalankan usaha pangan. tiba-tiba mereka yang tidak tau usaha keluarga saya dan sebagainya padahal mereka adlah warga baru memfitnah keluarga saya Mengepet atau melihara tuyul karena keluarga saya cukup berada diantara yang lain. saya kira keluarga saya tidak pernah memamerkan sesuatu atau memang mereka yang bersifat iri dan dengki. dan akhirnya saya harus pindah rumah karena sekelompok masyarakat pendatang dengan logat sundanya yang mencaci maki. sekarang saya tinggal di lingkungan Chinese dan bahkan ada tetangga saya yang orang jepang beristri orang indonesia sangat baik. jadi saya kira semua negara punya kekurangan dan kelebihannya masing-masing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s