jepang : tahun ketiga

Percaya atau tidak, sewaktu mendapat konfirmasi bahwa gw akan migrasi ke jepang hampir tiga tahun lalu, gw sungguh bahagia. Excited abis.

Tetapi sekarang, percaya atau tidak, gw kadang meng-google dengan kata-kata : i don’t like japan etc.

IMHO, orang jepang itu formal bukan sopan, penuh basa basi. Mereka juga dingin, distant, superficial, plastik (=fake). Apalagi yang laki-laki. Mayoritas pendiam, pasif, pemalu.

Kata-kata yang sering diucapkan dalam percakapan adalah kawaii(=cute), oishii(=delicious), sugoii(=cool). Diulang terus sampe bosen.

Ambil contoh dalam hal makan, biarpun makanannya asin, ngga enak, hambar, dll pasti mereka akan bilang oishii. Minum kopi/teh juga bakal bilang oishii. Ini yang gw bilang plastik.  Kalo gw, ngga enak ya ngga enak, asin ya asin. Tapi di jepang, setiap makan, gw selalu bilang oishiiiii dan diakhiri dengan gochisousama deshita ^o^ after all, too much courtesy won’t kill you..it only makes you vomit once in a while.

Makanan Jepang itu cantik tapi ngga lezat. Penampilan dapat nilai sepuluh, tetapi dengan lidah yang terbiasa dimanja dengan limpahan bumbu-bumbu tropis di Indonesia, cita rasa makanan Jepang cukup gw beri nilai lima. Bumbunya standar. Dashi, shoyu, mirin dan sake.  Makannya pake nasi, sup miso dan acar. That’s it. Dari Hokkaido sampai Okinawa, makanannya semua sama. Bandingkan dari Sabang sampai Merauke yang penuh variasi baik penampilan dan cita rasa.

Omiyage(=oleh-oleh) dibungkus dengan bungkus yang cantik. Packaging dapat nilai sepuluh. Tapi ini juga yang gw bilang plastik. Mochi dalam bungkus omiyage yang harganya paling mahal juga ngga akan jauh beda rasanya dengan mochi yang dijual 100 yen di supermarket. Teh hijau yang paling mahal juga ngga beda jauh rasanya sama teh hijau murah meriah di supermarket. Yang bikin mahal cuma bungkusnya, sampulnya, tempatnya.

Kalo ngobrol ngga akan jauh-jauh dari masalah cuaca (samui=dingin/ atsui=panas).

Cukup dengan menyapa Konnichiwa(=hallo), bisa dipastikan mendapat pujian nihongo wa jyozu(=wah bahasa jepangnya bagus!). Please dehh!!
Satu lagi, misalkan mereka bercuap-cuap dengan bahasa jepang dan kita (=gw) terlihat bodoh dan ngga lancar. maka mereka akan bilang (dengan bangganya tentu saja) nihongo wa muzukashi ne(=bahasa jepang itu sulit ya). Dulu gw selalu menjawab iya. Tetapi, sekali lagi tetapi…jangan pernah mengulangi kesalahan itu. Jawablah dengan kata-kata : bahasa jepang itu ngga sulit koq, karena jarang belajar saja jd tidak lancar.  Jangan berikan kesan bahwa bahasa Jepang itu bahasa yang paling sulit. Lagipun gw rasa bahasa Arab jauh lebih rumit.

Satu yang penting diketahui : Pelajaran sejarah di Jepang, tidak mengajarkan penduduknya bahwa mereka pernah menjajah dan berlaku sangat kejam di Indonesia. Jarang yang tahu bahwa buyut-buyut mereka pernah menindas dengan keji buyut-buyut kita di Indonesia. Jadi jangan pernah merasa berhutang budi sama Jepang.

Di facebook, entah kebetulan atau bukan, hal-hal yang dipajang baik foto atau status, ngga jauh-jauh dari foto makanan, jalan-jalan (dalam dan luar negeri), barang-barang yang baru dibeli atau dimiliki. Semua serba duniawi. Jarang gw lihat status yang serius atau tentang masalah-masalah sosial.

Yang satu ini berhubungan dengan status sebagai istri. Kadang gw ngga bisa mengerti apa bahagianya menikah kalo suami selalu pergi pagi buta dan pulang tengah malam. Kapan waktu buat ngobrol? kapan waktu buat bercinta? dari hasil menggoogling di internet, banyak sexless marriage di jepang. banyak uang tapi haus kasih sayang. itu kata-kata yang tepat menurut gw.

Tinggal di Jepang sementara dan lama adalah dua hal yang sangat berbeda. Berlibur dan menetap, belajar dan bekerja, lajang dan menikah, punya anak atau tidak, lancar atau tidak berbahasa Jepang, semua punya dampak yang berbeda dan mesti dipikirkan matang-matang. Jepang punya kecenderungan membosankan. Lansekap yang serupa, makanan yang serupa, penduduk yang serupa.

Radiasi dan ancaman gempa Tokai juga jadi pertimbangan. Saat ini, singapura jadi terlihat lebih hijau ketimbang  jepang =D

Dan lagi-lagi sebagai penutup curhat gw malam ini, gw cuma bisa bilang Rabb, maafkan..untuk hati yang belum ikhlas dan kurang bersyukur.

6 thoughts on “jepang : tahun ketiga

  1. hahahaha, jangan digeneralisasi tut. walau pun pada dasarnya ramah (apalagi yang berpendidikan), orang nyebelin juga ada. yang kadang2 mbetein malah orang2 imigran

  2. heheee….aku dari awal2 dateng dsini udah ketawa2… banyak paradoks disini..dibikin lucu aj jdinya (nemu blog mb tuti pas lg gugling resto indo d tokyo)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s