Kodokushi

We’re born alone, we live alone, we die alone. Only through our love and friendship can we create the illusion for the moment that we’re not alone.  -Orson Welles-

Di Saitama Prefektur yang terletak tidak jauh dari Tokyo, tiga orang angggota keluarga ditemukan meninggal dalam keadaan kelaparan. Jasad mereka baru ditemukan setelah lebih dari enam bulan. Mereka adalah pasangan berusia sekitar 60 tahun dan seorang yang berusia sekitar 30 tahun. Di rumah sewaannya yang belum dibayar selama enam bulan, diketahui bahwa listrik, air dan gas diputus karena belum dibayar. Hanya ditemukan beberapa batang permen dan beberapa uang koin satu yen. Sang ibu pernah meminta bantuan kepada salah satu tetangganya namun ditolak dan disarankan untuk pergi ke kantor pemerintah untuk meminta dana kesejahteraan. Namun ia tidak melakukannya.

Dua orang saudara perempuan berusia 40 tahunan ditemukan meninggal bulan lalu dalam apartemen mereka di Sapporo, Hokkaido. Mereka nampaknya meninggal karena kedinginan. Tidak ada pemanas dalam apartemen meskipun suhu dapat mencapai minus nol derajat.

Minggu lalu, jasad seorang wanita berusia 45 tahun dan anaknya yang berusia 4 tahun ditemukan dalam apartemennya di Tachikawa, Tokyo. Hanya berjarak dua stasiun dari daerah yang saya tinggali saat ini. Mereka telah meninggal berbulan-bulan. Sang ibu diketahui meninggal karena pendarahan otak dan anaknya yang cacat, tidak mampu memberi makan dirinya sendiri, akhirnya meninggal karena kelaparan.

Bulan Januari lalu, di Fukushima, seorang pengungsi berusia 73 tahun ditemukan meninggal dalam bak mandi di rumah tinggal sementara miliknya.

Lonely death atau kodokushi dalam bahasa Jepang, adalah fenomena yang menarik untuk ditelusuri. Kodokushi adalah kematian dalam kesendirian dan kesunyian. Korbannya kebanyakan adalah pria lanjut usia yang hidup sendiri, terasing, dan berada di bawah garis kemiskinan menurut standar Jepang.

Menurut Kementrian Kesehatan, Ketenagakerjaan, dan Kesejahteraan, sejak tahun 2000 lebih dari 700 orang meninggal karena kelaparan. Kematian yang tidak dilaporkan, sewa yang tidak dibayar, tidak ada makanan, listrik, air, dan gas. Juga hampir tidak ada ikatan dengan keluarga dan teman, adalah hal-hal yang sering ditemui dalam situasi ini. Banyak dari mereka yang malu untuk meminta pertolongan. Gaman atau silent endurance adalah cara Jepang  mengajarkan ketangguhan dalam menghadapi masalah dengan kesunyian.

Perekonomian Jepang adalah terbesar ketiga di dunia. Namun tingkat kemiskinan relatif di Jepang naik menjadi 15.7 % di tahun 2007. Satu dari enam orang penduduk Jepang berada di bawah garis kemiskinan. Definisi tingkat kemiskinan relatif menurut Organisasi untuk Kerjasama dan Pengembangan Ekonomi (OECD) adalah mereka yang berpenghasilan setengah dari penghasilan median penduduk Jepang, yaitu sekitar 79 juta rupiah per tahun. Angka ini nampaknya terlihat besar dari kaca mata penduduk di Indonesia, Namun di Jepang, sewa rumah sendiri bisa menghabiskan lebih dari setengahnya. Belum termasuk biaya makan, kesehatan, transportasi, utilitas dan lain-lain. Jumlah ini tidaklah mencukupi.

Kodokushi pertama kali dikenal pada era 80 an. Menurut data statistik Biro Kesejahteraan Sosial dan Kesehatan Umum, pada tahun 2008, lebih dari 2,200 orang yang berusia di atas 65 tahun meninggal dalam kesendirian. Saat ini, satu dari lima orang Jepang berusia lebih dari 65 tahun. Kehidupan tiga generasi dalam satu rumah sudah jarang ditemui. Alasannya sebagian besar karena anak-anak tinggal dan menetap di kota atau tempat lain. Orang tua lanjut usia yang tidak memiliki uang pensiun yang cukup, besar kemungkinan akan hidup terlunta-lunta dan terasing dari sanak keluarganya. Sebuah survey yang dikutip penyiar TBS menyatakan 70 persen penduduk Jepang tidak menginginkan tetangga untuk masuk ke dalam kehidupan mereka

Taichi Yoshida awalnya adalah pemilik perusahaan pengangkutan kecil di Osaka. Kini ia memulai bisnisnya yang baru yaitu membersihkan rumah orang yang telah meninggal. Yoshida memperhatikan bahwa banyak dari mereka yang meninggal tersebut, tidak mempunyai keluarga yang bisa dihubungi untuk mengambil barang-barang peninggalannya. Ia juga memperhatikan hal lainnya, noda tebal dan gelap yang berbentuk tubuh manusia, yang merupakan cairan residu dari kerangka yang membusuk.

Setiap tahun, Yoshida melakukan sekitar 300 pembersihan bagi korban kodokushi. Mereka kebanyakan meninggal di lantai, di antara tumpukan baju dan piring kotor, di tempat tidur atau bersandar di dinding. Di beberapa kejadian, yang tersisa hanyalah tulang belulang. Menurutnya, mayoritas kodokushi adalah mereka yang cenderung berantakan.

“It’s the person who, when they take something out, they don’t put it back; when something breaks, they don’t fix it; when a relationship falls apart, they don’t repair it.”

Kodokushi membuka mata akan perlunya pencarian jiwa dalam kehidupan masyarakat Jepang. Di negara ini, kegagalan dipandang sebagai hal yang memalukan. Menjadi miskin adalah aib. Dan yang lebih mengenaskan, mereka tidak bisa mengadu. Mengeluh adalah kelemahan. Kelemahan bukanlah Jepang. Menderita dalam diam tetap lebih terhormat, meskipun nyawa taruhannya.

Di lima lantai apartemen yang saya tinggali saat ini, empat lantai dihuni oleh orang-orang lanjut usia yang hidup dalam kesendirian. Di pintu-pintu rumah yang selalu terkunci rapat dan hening, kodokushi menunggu waktu untuk datang dan menjemput.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s