Yumi San

Yumi San adalah ibu dua orang anak kembar yang sekarang duduk di sekolah dasar. Kita berkenalan di tempat les musik. Suatu hari, ia datang dan mengajak gw untuk bertemu seminggu sekali selama sejam untuk bercakap-cakap dalam bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Dia juga seorang sosiolog yang dulunya belajar tetang kebudayaan masyarakat asli Filipina. Karakternya tegas, apa adanya, dan cenderung serius. Mungkin karena pernah tinggal di Jerman beberapa tahun mengikuti suaminya.

Meski seorang sosiolog, dia dulu bekerja sebagai guru bahasa Inggris di sekolah dasar. Di Jepang, lazim adanya bahwa latar belakang pendidikan tidak berhubungan dengan pekerjaannya. Contoh lain, teman gw yang belajar psikologi, bekerja sebagai petugas laboratorium yang bertugas menyuntik tikus-tikus percobaan dengan berbagai zat kimia. Orang Jepang percaya bahwa setiap orang dapat melakukan pekerjaannya asalkan diberi kesempatan dan pelatihan terlebih dahulu. Hal yang patut dicoba di Indonesia.

Selama ini gw menahan diri untuk membahas hal-hal sensitif tentang Jepang. Padahal banyak sekali pertanyaan, unek-unek yang gw ingin tanyakan dan gw diskusikan secara jujur dan terbuka. Nah, Yumi San adalah orang yang tepat untuk membahasnya. Pertama karena dia sosiolog yang menurut gw, lebih memahami masalah-masalah sosio-kultural. Kedua karena dia jujur dan apa adanya. Buruk ya dibilang buruk, tanpa menutup-nutupi. Ketiga, dia pernah tinggal di negara lain, dia pernah menjadi minoritas, dia pernah merasakan sebagai gaijin, dia pernah ada di posisi gw. Itu yang penting. Ego ke-jepangannya lebih melunak dan lebih terbuka dengan dunia luar.

Bulan lalu, gw nyerocos tentang keluhan gw dengan sikap orang Jepang yang dingin dan superficial. Yang pertama dia agak kurang sepakat karena menurutnya mereka dingin di lingkungan kebanyakan. Jika mengenal lebih personal maka mereka tidak sedingin itu. Yang kedua, dia sangat setuju. Katanya, memang benar ucapan mereka belum tentu sama dengan yang ada di dalam hati. Orang Jepang kesulitan mengungkapkan isi hatinya.

Pada pertemuan berikutnya, dia tiba-tiba bertanya, ” Tuti San, apakah kamu ada pertanyaan hari ini? Karena kemarin kamu bertanya banyak sekali.” Awalnya gw bilang ngga tetapi akhirnya gw bilang ada. Pertanyaannya adalah apa nama jepangnya untuk mereka yang secretly unemployed. Setelah menjelaskan panjang lebar akhirnya dia bilang ngga ada sebutan khusus meski fenomena ini banyak terjadi. Untuk lebih detil, lain waktu gw tulis tentang masalah ini.

Gw juga pernah bercerita bahwa selama ini gw berteman dan bertemu seminggu sekali dengan perkumpulan ibu-ibu Jepang yang bisa berbahasa Inggris. Gw heran dengan mereka. Mereka kenal cukup lama tetapi tidak pernah sekalipun pertemuan itu diadakan di rumah anggotanya. Mereka selalu memesan tempat untuk digunakan selama beberapa jam. Bisa dibilang, gw lah yang pertama kali mempelopori pertemuan di rumah.  Sejak saat itu, pertemuan sering kali diadakan di rumah masing-masing anggota.

Yumi bilang, kadang mereka enggan mengundang karena ngga ingin repot. Mesti masak, mesti bebersih rumah. Nah, habis berbicara seperti itu, pertemuan berikutnya Yumi mengundang gw untuk main ke rumahnya hehe.

Ternyata orang Indonesia lebih hangat dan lebih erat persahabatannya dengan orang lain ketimbang orang Jepang. Satu hal lagi yang gw pelopori adalah pemberian foto anak-anak secara gratis kepada orang tuanya di sekolah olit. Kadang ada event di mana orang tua datang ke sekolah dan boleh memotret, ya sekalianlah gw cetak dan bagikan kepada mereka. Ternyata kebiasaan itu dilanjutkan dan tetap ada sampai sekarang. Bangga juga jadinya hehehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s