Menyewa rumah di Jepang

Karena status suami sebagai pelajar mulai berganti, kita harus pindah dari apato yang sekarang ditinggali. Berbekal buku Living Abroad in Japan-nya Ruthy Kanagy, kita sudah siap pasang badan untuk hunting rumah yang baru. Buku itu sudah memperingatkan kita terhadap kemungkinan buruk yang akan dialami. Pengalaman yang akan dialami semua gaijin/orang asing di Jepang. Ditemani sahabat baik gw, pagi-pagi kita mulai mendatangi agen perumahan di sekitar wilayah kita tinggal.

Agen rumah yang pertama kita datangi adalah seorang laki-laki tua. Sejak pertama menginjakan kaki dan memandang wajahnya yang masam kebanyakan cuka, gw bisa menebak kelanjutannya. Teman gw bertanya apakah ada rumah yang available buat kita. Bapak itu menjawab dengan malas dan senyum terpaksa. Katanya tidak ada rumah yang available. Landlord ngga bersedia menyewakan rumahnya untuk orang asing. Dari sekian banyaknya listing yang ada, si bapak enggan bersusah payah untuk membantu. Meski sudah pasang badan, ditolak mentah-mentah begitu cukup bikin sebal. Sahabat gw si orang Jepang pun ternyata sama kagetnya melihat sikap si bapak yang kurang bersahabat.

Agen kedua letaknya tak jauh dari yang pertama. Gw sudah siap mental andai ditolak macam yang pertama tadi. Agen kedua adalah seorang wanita paruh baya. Luwes dan ramah. Setelah mengetahui deskripsi rumah yang kita inginkan, dia sigap memberi pilihan. Salah satunya adalah rumah yang kebetulan pernah disewa oleh orang Indonesia. Setelah memutuskan rumah yang ingin kita lihat, dia memberikan kunci beserta petanya. Di Jepang, kadang agen ikut menemani kita melihat-lihat properti yang kita inginkan, kadang kita bisa pergi sendiri. Agen hanya memberikan kunci rumah dan peta. Agen kedua ini berbeda sekali pelayanannya dengan bapak tua tadi.

Agen ketiga adalah seorang ibu tua. Lambat kerjanya tapi lebih bersahabat. Koleganya yang lebih muda, membantu agar prosesnya lebih cepat. Setelahnya, ia memberi kunci rumah dan peta untuk kita lihat. Kita memutuskan untuk melihat rumah yang direkomendasikan agen kedua dan ketiga saja. Makin banyak pilihan, nanti malah tambah bingung. Atau malah tambah kesal? =P

Ada rumah yang gw incar tetapi setelah cek ke agen, si pemilik rumah enggan menyewakan rumahnya kepada orang asing. Dia menyuruh kita mengisi formulir dan memberikan data lebih rinci, baru bisa memberi keputusan. Terpaksa rumah ini dicoret dari daftar.

Rasisme di Jepang banyak ragamnya. Yang menjengkelkan, mereka ngga sadar kalo apa yang mereka lakukan itu termasuk kategori rasis. Gw cuma membayangkan apa jadinya Jepang dua puluh tahun mendatang. Apakah mereka tetap keukeuh menolak orang asing menyewa rumahnya?

Dan anehnya, meski rasisme mendarah daging, ada saja orang Indonesia yang selalu mengelu-elukan Jepang dan memandang rendah negaranya sendiri. Yang menceritakan kehebatan dan kebaikan Jepang tanpa mau peduli akan kenyataan pahit yang ada. Mungkin orang-orang semacam ini, jarang cari rumah sendiri.

8 thoughts on “Menyewa rumah di Jepang

  1. Dah sering jadi korban rasis di jepang ane ji …… dari yang pertama tinggal tahun 2001 -2004 … sampe sekarang ga tau nya ga berubah .. hehehhehe ya terima aja … kadang suka bingung ma orang indo yg mendewa dewa kan nihon jin di indonesia ….makanya suka miris liat nihon jin di indonesia di kasih fasilitas serba wah padahal klo die kerja bareng kita di sini ya selevel dan gaya nya ga beda jauh …hiksss

  2. iya..dinikmati aja ya am..sambil sebel hehehe..kita punya mental kelamaan dijajah..padahal indonesia bargaining powernya kuat..mestinya berani bilang bebas visa buat orang Indonesia, nyari rumah harus available buat orang kita, imigran n pelajar indonesia jumlahnya ditambah secara signifikan, bekerja di perusahaan2 dengan posisi2 strategis,dll…kalo ngga mau, gas distop ke jepang..pasti mereka mati kutu. ngga tau kemlu kerjaannya ngapain aja =(

  3. Seru baca2 tulisan di sini😀
    hmm.. setelah baca artikel ini jadi gatel pengen komen. Mungkin bisa dibilang saia termasuk dari ribuan orang Indonesia yg mendewakan Nihon-jin, (berhubung dari kecil sudah “termakan” segala kelebihan2 mereka), khususnya dalam soal kultur.

    Saia yg belum pernah menginjakkan kaki di negeri sakura ini pun masih tetap mencintai kekhasan mereka, termasuk “rasisme”-nya. Meski pasti rasanya beda dengan mereka yg udah pernah mengalami kesulitan2 tinggal di sana secara langsung, saia masih punya keinginan untuk mencoba tinggal di sana. Bukan karena rasa nasionalisme saia kurang (apalagi sampai memandang rendah negara sendiri), tapi lebih karena ada perasaan “ingin mengalaminya secara langsung”, bagaimana rasanya tinggal di negara superpower, dengan masyarakatnya yg kaku seperti itu. Toh dimana pun kita tinggal, hidup, jalanin aktivitas sehari2, pasti ada gampang-susahnya, ada tantangannya sendiri.

    Dan iya, mungkin seperti kata mbak, orang2 semacam saia ini jarang cari rumah sendiri.. #eh

    Just sharing.🙂

  4. Almarhum nenek saya, sedari saya kecil sering bercerita tentang kejamnya Jepang. Betapa sulitnya hidup sehari-hari. Tiga tahun setengah dijajah Jepang sangat jauh lebih menyengsarakan ketimbang tiga ratus lima puluh tahun dijajah londo. Almarhumah nenek saya dan mungkin ribuan orang Indonesia yang dijadikan romusha, jugun ianfu dan korban lainnya, pasti tidak akan pernah mendewakan nihonjin.

    Dan saya cucunya, sakit hati sekali ketika tahu teman nihonjin saya, tidak pernah diajarkan sejarah hitam tentang negerinya. Tentang kekejaman kakek-kakeknya. Latar belakang kita jelas berbeda. Mungkin kakek-nenek anda tidak tinggal di Indonesia tahun 40 an.

    Tetapi saya doakan semoga cita-cita anda bisa tercapai. Bisa tinggal di negara superpower yang diidam-idamkan dan bahkan bisa cari rumah sendiri. Amien =)

  5. Ahaha, almh. nenek saia kebetulan tinggal di Padang tahun segitu..
    Trims atas doanya. ^^

  6. Hello mba.. salam kenal, aku dapet banyak info dari postingan mba tentang SD di Jepang.. ^_* ehh terus nemu postingan ini, kok rasanya jadi berlawanan yaa..
    Di posting sebelah mba memberikan tanggapan positive mengenai budaya dan etika orang jepang.. Di posting ini kayanya mba ga suka banget sama orang jepang.. -_-

    (Saya pembaca random yang mau bersikap objektif melihat suatu masalah).

    Landlord yang berhati-hati / pilih-pilih dalam menyewakan propertinya tidak
    bisa dibilang rasis, di Jakarta saja sering saya temuin pemilik apato yang pilih-pilih penyewa.. (Semata demi kenyamanan sang Empunya properti)

    Masalalu kelam tentang penjajahan sebaiknya tidak usah diungkit lagi.. Biarlah masalalu berlalu.. Kalo semua berpikiran mendendam sama masalalu, ga lama lagi kita semua akan berperang deh.. *amit2jangansampe

    @Malik AAM:
    Mengenai orang jepang yg kerja disini dikasih fasilitas lebih, itu suatu kewajaran. Bayangkan saja Anda manusia yang terbiasa hidup di negara maju yang aman, sejahtera dan teratur, tiba-tiba ditugaskan ke negara “berkembang” yang tingkat keamanan dan kesejahteraan masyarakatnya masih minim. Kompensasi yang diberikan perusahaan kepada Anda adalah gaji standart Jepang ditambah kenyamanan dan keamanan. Karena karyawan adalah aset perusahaan, sudah sewajarnya perusahaan berusaha melindungi asetnya.

    Saya punya Sepupu dan teman-teman yang menikah dan stay di Jepang. Saya banyak dapat ilmu tentang budaya Jepang dari mereka dan Saya sangat menghargai kebudayaan masing-masing negara.

    Tidak bermaksud merendahkan negara sendiri, namun kenyataannya, etika dan sopan santun jarang terlihat di masyarakat kita.. Ngantri aja sulit, buang sampah sembarangan, sad but true masyarakat kita tidak memikirkan oranglain jadinya fasilitas umum kotor dan rusak.

  7. pada dasarnya tidak ada negara yang sempurna, di jepang pun sama. ada hal-hal baik yang patut ditiru dan hal-hal yg tidak patut ditiru. bukan karena developed country lantas jepang jadi tidak punya cacat. jujur saja saya bukan pemuja jepang, jadi jangan salahkan saya kalau saya menulis ‘ugly truth’ tentang negara tersebut🙂.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s