Parenting a la Jepang dan Indonesia

Ada ngga sih bedanya parenting a la Jepang dan parenting a la Indonesia? Jawabannya BEDA BANGET! Kalau ada sekumpulan anak Jepang dan Indonesia campur jadi satu, bisa dipastikan kelakuan anak Indonesia terlihat sangat berbeda. Beda di sini sayangnya lebih ke arah negatif. Anak-anak di Jepang well behaved, sedang anak Indonesia banyak yang berperilaku a la negara dunia ketiga yang kurang beretika.

Mengapa hal ini bisa terjadi?

1. Parenting a la Indonesia permisif dan kurang disiplin.

Semuanya diperbolehkan, banyak pemakluman. Sering orang tua berpendapat, toh masih anak-anak jadi maklum saja. Anak-anak punya kecenderungan untuk mencoba melawan batas. Di Indonesia, melarang anak sering dianggap menekan kreatifitas. Kreatifitas harus terus didukung, tetapi juga harus pada tempatnya. Misal, anak suka bermain bola. Tentu saja mereka harus bermain bola di lapangan bola. Bukan di sembarang tempat.

2. Orang tua yang sabar = Orang tua yang baik.

Menurut gw, sabar harus pada tempatnya. Jika anaknya nakal dan mengganggu, sabar bukanlah cara yang tepat untuk mendisiplinkannya. Kenakalan dan kurang beretika tidak akan berhenti dengan cukup bersabar. Harus ada tindakan konkrit untuk mencegah sang anak bertingkah nakal dan kurang sopan. Orang tua harus tegas dan menunjukan otoritasnya.

Karakter anak berbeda-beda. Ada anak yang berkarakter kalem dan mudah dinasehati. Ada pula anak yang berkaraker kuat dan cenderung keras kepala. Orang tua harus tahu bagaimana cara mendisiplinkan sang anak sesuai karakternya tersebut.

3. Anak diasuh pembantu.

Pembantu tentu saja tidak punya kekuasaan dan kemampuan untuk melarang dan mendidik. Dan banyak orang tua yang terlalu menyerahkan anaknya kepada pembantu karena tidak ingin repot, tidak ingin diganggu waktunya sehingga anak kurang mendapat perhatian dan pengawasan.

4. Kurangnya empati dan budaya egosentris.

Kebanyakan orang Indonesia selalu memikirkan dirinya terlebih dahulu, baru orang lain. Mereka tidak peduli jika kelakuan sang anak mengganggu hak orang lain.

Misal di tempat umum, pernah suatu saat gw makan di salah satu restoran di Jakarta. Sang pembantu menggendong si anak yang lagi nangis dekat tempat duduk gw. Otomatis gw tegur si mbak karena merasa terganggu. Si mbak malah protes merasa gw terlalu berlebihan. Orang tuanya saja ngga mau terganggu sama si anak, apalagi gw yang bukan siapa-siapa.

5. Kurikulum di sekolah yang kurang menekankan pentingnya beretika dan bersopan santun.

Mereka lebih mementingkan proses ritual keagamaan.  Padahal hubungan dengan Tuhan harus berbanding lurus dengan hubungan kita terhadap sesama manusia. Buat apa menghafal surat-surat al-quran berjuz-juz tetapi belajar untuk tepat waktu saja tidak bisa. Menghargai waktu orang lain saja nampaknya mustahil untuk dilakukan. Belajar untuk bergantian dan bersabar terhadap mainan saja sulit dilakukan. Mereka terbiasa main rebut. Kata-kata tolong, terima kasih dan maaf pun jarang terucap.

6. Pengaruh buruk media seperti TV, majalah, surat kabar yang banyak menyiarkan kekerasan dan berita-berita negatif.

Anak-anak cenderung meniru apa yang mereka dengar dan lihat di televisi. Jika terus menerus terpapar berita kekerasan maka lambat laun mereka merasa bahwa kekerasan adalah hal yang lumrah dan biasa.

Tiga tahun di Jepang, gw mengamati bagaimana teman-teman Jepang gw mengasuh anak-anaknya. Terutama anak-anak mulai bayi sampai masuk sd. Perbedaan mendasar yang terdapat dari pola pengasuhan di Jepang :

1. Disiplin.

Dari lahir, anak-anak selalu bersama ibunya. Mereka tidak pernah luput dari pengawasan sang ibu. Ibu-ibu di Jepang disiplin sekali terhadap anak-anaknya dan kedisiplinan ini diajarkan sejak dini. Jika sang anak tidak mematuhi, maka mereka akan memukul kepala si anak. Hukuman ini lazim buat orang Jepang. Namun di tempat umum, pantang untuk memarahi atau bersikap kasar terhadap anak. Mereka dihukum ketika sudah di rumah. Oleh sebab itu, anak-anak Jepang jarang yang bersikap seenaknya karena mereka tahu apa konsekwensinya jika mereka melanggar aturan. Namun kadang ada juga ibu-ibu yang memukul kepada si anak di tempat umum jika sang anak bersikap kelewatan atau berbahaya.

2. Berempati. Harus mendahulukan orang lain sebelum diri sendiri.

Orang Jepang selalu menasehati anaknya dengan cara : jika kamu begini maka orang lain begitu. Setiap tindakan anak akan selalu membawa akibat kepada orang lain. Jadi ia akan terbiasa mementingkan perasaan dan kepentingan orang lain lain terlebih dahulu sebelum kepentingannya.

Di tempat umum, anak-anak jangan sampai mengganggu kenyamanan orang lain. Misalkan di restoran, tidak ada anak-anak yang hilir mudik, berjalan kesana kemari. Semua anak duduk di bangkunya masing-masing. Bayi selalu digendong atau dipangku oleh ibunya. Jika sang bayi rewel, sang ibu akan berdiri dan menggendongnya. Di Jepang, ibu-ibu tidak pernah menyusui bayinya di tempat umum. Mereka selalu menyusui di ruangan menyusui.

Di rumah sakit, klinik, mall, dan tempat umum lainnya, tidak ada anak-anak yang berjalan mundar mandir, lari kesana kemari, berbicara keras-keras. Misalkan di klinik atau rumah sakit, berbahaya jika anak kita berjalan-jalan atau bahkan berlari-lari. Karena banyak petugas medis berlalu lalang, atau pasien yang bisa terjatuh karena tersandung anak. Selain itu, hal ini mengganggu kenyamanan orang lain. Kita tentu saja menyukai suasana yang tenang dan tertib.

Di kereta, anak-anak harus duduk dengan tertib dan tidak berisik. Banyak penumpang yang ingin tidur dan beristirahat, jadi pikirkan kenyamanan mereka juga.

3. Sekolah menitikberatkan kepada etika dan hal ini diajarkan sejak dini.

Semua komponen masyarakat, baik keluarga dan sekolah, mengajarkan anak untuk beretika dan bersopan santun. Jika bermain bersama, si anak ingin meminjam mainan temannya maka harus meminta ijin terlebih dahulu. Jika diijinkan maka harus mengucapkan terima kasih. Setelah selesai bermain juga harus mengucapkan terima kasih lagi. Jika melakukan kesalahan baik di sengaja ataupun tidak, anak harus meminta maaf dan temannya harus memberikan maafnya. Anak-anak tidak boleh mengambil yang bukan miliknya. Semua harus meminta ijin terlebih dahulu.

Terutama di SD, anak-anak diajarkan untuk duduk diam dan mendengarkan ketika guru sedang berbicara. Kebiasaan ini terbawa sampai dewasa, sehingga ketika ada seorang pembicara di suatu pertemuan, para pendengar menyimak dengan serius. Sedang di Indonesia, jika ada seseorang sedang berbicara, maka lainnya sibuk berbicara sendiri-sendiri dan tidak menyimak. Guru mempunyai kewenangan utuk mendisiplinkan sang anak jika nakal dan mengganggu teman-temannya.

4. Media Jepang terutama televisi yang jarang menayangkan berita kekerasan dan andaikan ada korban jiwa atau luka-luka, mereka tidak pernah memasang gambar korban. Isi TV di Jepang kebanyakan adalah acara talk show, makan-makan, jalan-jalan dan ilmu pengetahuan.

Mungkin ada yang beranggapan bahwa pola pengasuhan kita berdua terhadap anak terlalu strict. Hal ini karena kita ingin meniru standar Jepang dalam beretika, meski tidak semua pola pengasuhannya bisa diadopsi. Etika Jepang adalah etika negara maju yang tahu bagaimana seharusnya menghargai hak orang lain. Dibandingkan Indonesia dan Singapura, etika Jepang masih jauh lebih unggul.

Satu hal lagi, pendidikan tinggi, belajar di negara maju tidak mengubah perilaku seseorang. Kalau dibesarkan dengan kebiasaan kurang beretika, maka kebiasaan  ini akan menjadi watak ketika dewasa dan sulit sekali diubah. Jadi bagi anak-anak kita, masih ada waktu untuk terus membentuk karakternya menjadi karakter yang lebih baik sesuai dengan standar negara maju.

3 thoughts on “Parenting a la Jepang dan Indonesia

  1. Ini posting super sekali.. dan memang nyata terjadi.. lebih baik jadi orang yang berkelakukan baik terhadap sesama, mendahulukan kepentingan orang, bersimpati dan taat sama aturan… daripada sibuk ngafalin ayat suci, namun dalam kehidupan sehari-hari ga mikirin oranglain, mau menang sendiri, ingkar janji, banyak alasan dll..

  2. Postingnya bagus, tp lebih bagus lagi kalau tidak merendahkan yg lain, yang Ngaji tidak prlu disalahkan yang salah perilakunya
    dan setiap manusia ada kurang jg ada lebihnya begitupun saya pribadi🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s