SD di Jepang

April kemarin Olit resmi bersekolah di sekolah dasar enam di daerah tempat tinggal kita. Anak-anak yang berusia 6 tahun pada tanggal 1 April diwajibkan bersekolah. Peraturan ini sangat ketat. Bagi mereka yang lahir pada tanggal 2 April, harus mendaftar di tahun berikutnya meski hanya berselisih satu hari saja. Proses pendaftaran dilakukan sejak bulan Agustus tahun sebelumnya. Kantor-kantor kecamatan akan mengirimkan formulir kepada para orang tua di dalam wilayahnya. Jika orang tua memutuskan untuk tidak menyekolahkan anaknya, misalkan memilih homeschool, mereka harus menjelaskan dengan rinci alasan mereka ke kantor kecamatan.

Upacara masuk sekolah (Nyuugakushiki) di Jepang diadakan dengan khidmat. Orang tua dan anak berpakaian formal dan membawa tas sekolah yang dikenal dengan nama randoseru. Randoseru bermacam-macam warna dan mereknya. Semakin mahal, semakin ringan bobotnya. Tas ini dilengkapi alarm yang dapat dibunyikan sewaktu-waktu oleh anak jika mereka merasa terancam, misal dikuntit oleh orang tak dikenal atau orang-orang yang mencurigakan. Ini penting sekali karena anak SD di Jepang tidak boleh diantar oleh orang tuanya ke sekolah. Mereka biasanya pergi bersama dengan teman-teman yang rumahnya bersamaan arah.

Sekolah negeri di Jepang rata-rata diberi nama dengan angka, seperti sekolah dasar satu, sekolah dasar dua, dst. Sekolah negeri di Jepang tidak dipungut biaya. Orang tua hanya membayar uang makan dan uang PTA (semacam POMG). Berhubung Olit membawa bekal setiap hari, kita tidak perlu membayar uang makan sekolah. Meski sekolah ini gratis, fasilitasnya cukup baik. Mereka memiliki perpustakaan, laboratorium, lapangan olahraga outdoor maupun indoor, serta kolam renang. Meskipun kolam ini hanya digunakan pada waktu musim panas saja.

Sekolah swasta di Jepang tidak sebanyak sekolah negeri, pun letaknya biasanya jauh dari rumah. Anak-anak harus naik kereta sendiri untuk pergi ke sekolah. Untuk bersekolah di sini, calon murid diharuskan mengikuti tes terlebih dahulu. Bagi orang tua yang menginginkan anaknya masuk ke sekolah swasta, mereka akan memasukan anak-anak mereka ke tempat les (juku) sejak anak-anak duduk di bangku TK. Kelebihan sekolah ini, selain uang sekolahnya yang berlebihan (=mahal), adalah fasilitas dan guru-guru pengajarnya. Mereka bekerja berdasarkan performa. Jika sang guru dianggap tidak bagus, mereka bisa diberhentikan dari pekerjaannya. Jadi kualitasnya konon lebih baik dari guru SD negeri yang berdasarkan sistem PNS. Ijime atau bullying di SD swasta pun minim karena pengawasan terhadap murid-muridnya cukup ketat. Biasanya sekolah swasta adalah sekolah terpadu yang menyediakan pendidikan dari SD-SMP-SMA, bahkan kadang sampai universitas jika yayasannya adalah yayasan kaya.

Di Jepang, makan siang sekolah (kyuushoku) disiapkan secara profesional. Setiap bulan, orang tua diberikan daftar menu yang cukup detil seperti bahan yang digunakan beserta jumlah kalorinya. Menunya sehat sekali. Ada nasi atau roti, lauk, sayuran, buah, dan susu atau jus. Makanan ini ditaruh di trolley dan diantarkan ke masing-masing kelas. Dua anak bergiliran bertugas untuk membagikan makan siang ini kepada teman-temannya. Mereka memakai baju seragam putih beserta topi dan tidak lupa untuk memakai masker. Waktu makan siang tidaklah lama. Mereka hanya diberi waktu 20 menit saja. Di Jepang, anak-anak yang mempunyai alergi diberikan menu khusus. Dengan syarat harus disertai bukti dari dokter. Alasan agama tidak diakui di sekolah, itulah mengapa Olit harus membawa bekal sendiri.

Sekolah di Jepang dibagi menjadi tiga termin. Termin pertama April-Juli, termin kedua September-Desember, termin ketiga Januari-Maret. Akhir Juli sampai Agustus adalah waktunya liburan musim panas. Meskipun liburan, pe-er yang diberikan cukup banyak. Mulai dari pe-er matematika, pe-er membuat laporan atas buku-buku yang diwajibkan untuk dibaca, menulis catatan harian, kalender harian, menggambar, mengikuti kontes di wilayahnya, sampai meneliti pertumbuhan tanaman. Sebagai contoh di SD-SD sekitar tempat tinggal kita mewajibkan anak-anak untuk meneliti pertumbuhan tanaman Asagao (Japanese Morning Glory). Sekolah meminjamkan tanaman ini kepada masing-masing anak selama liburan sebagai bahan penelitian.

Pelajaran di Jepang bagi anak-anak kelas 1 adalah Kokugo (Bahasa Jepang), Sansu (Matematika), Zukou (Seni), Ongaku (Musik), Seikatsu (Pengetahuan tentang kehidupan), Taiiku (Olahraga), Dotoku (Etika), Tokubetsu Katsudo (Aktivitas di kelas seperti diskusi, dll). Pe-er (shukudai) selalu diberikan setiap hari. Kadang hanya dua lembar bolak-balik untuk pelajaran Kokugo dan Sansu, kadang bisa sembilan lembar bolak balik. Untuk termin pertama, anak-anak hanya belajar hiragana saja. Mereka mulai belajar kanji pada termin kedua. Pada termin pertama, matematika hanya mempelajari penjumlahan dan pengurangan sebanyak dua digit. Berhubung Olit baru menyelesaikan termin pertama, maka pelajaran untuk termin selanjutnya masih belum diketahui. Oya, setiap malam anak diharuskan melakukan Ondoku (membaca cerita dengan suara keras). Ini gunanya melatih anak untuk melafalkan hiragana/katakana dengan jelas dan benar.

Seperti di TK, hampir setiap hari sekolah memberikan kertas yang berisi informasi-informasi penting. Ada pula buku penghubung antara guru dan orang tua yang disebut renraku cho. Berhubung kita ngga bisa berbahasa Jepang dengan baik dan benar serta buta akan kanji, maka insiden yang berkaitan dengan informasi-informasi tersebut sering terjadi. Sebagai contoh, sekolah memberikan jadwal pelajaran sehari-hari. Secara otomatis, buku yang dipersiapkan ya berdasarkan jadwal tersebut. Namun sering kali di renraku cho, tertulis (1)Ko, (2)Sa, dst. Ternyata maksudnya adalah anak-anak disuruh membawa buku sesuai yang ditulis di renraku cho, bukan yang tertera di jadwal. Alhasil Olit adalah murid yang sering ngga membawa buku yang seharusnya dibawa =P

Dua hal yang sangat gw sukai dari sistem pendidikan Jepang adalah pelajaran etika dan tidak adanya sistem kenaikan kelas.

Mengapa gw sukai?

Pertama, etika adalah sistem yang membentuk pribadi-pribadi Jepang menjadi peka terhadap sesama. Masih lebih baik superficial tetapi penuh tata krama, ketimbang yang apa adanya tetapi tidak tahu aturan.

Kedua, tidak adanya sistem kenaikan kelas berarti tidak ada murid yang bodoh dan tidak ada murid yang pintar. Semua anak merasa dirinya mampu dan terus berusaha. Tidak ada yang merasa rendah diri. Tidak adanya sistem kenaikan kelas juga membuat anak fokus untuk terus melanjutkan pelajaran berikutnya. Mereka tidak dihantui perasaan takut dan khawatir. Hal ini menjadikan anak lebih positif menilai diri dan masa depannya.

Mereka yang tidak menggondol predikat juara belum tentu tidak sukses dalam hidupnya. Dan mereka yang selalu berada di puncak kelas pun belum tentu sukses di masa mendatang. Pengkotak-kotakan anak sejak usia dini menurut hemat gw, lebih baik ditiadakan.

Kembali ke sistem pendidikan Jepang, tidak adanya sistem kenaikan kelas bukan berarti tidak ada laporan tentang perkembangan anak di sekolah. Di akhir termin, guru memberikan laporan yang diklasifikasikan secara detil dalam dua kategori, yaitu : baik (dekiru) dan perlu ditingkatkan(?) (mou sukoshi). Khusus untuk Olit dan gw terutama, semoga di termin kedua, untuk kolom ‘Jangan lupa membawa barang yang diperlukan di sekolah’ ngga dibuletin di kolom mou sukoshi hehehe.

5 thoughts on “SD di Jepang

  1. No wonder deh Jepang bisa semaju itu. Semua berawal dari kualitas manusianya. Mba masih di Jepang kah? Saya mau tanya2 tentang living cost di Jepang.. kalau boleh tau, jepangnya di daerah mana? Terimakasih

  2. sekarang saya tidak tinggal di jepang lagi, dulu tinggal di daerah Hino, Tokyo. Silahkan saja jika ingin bertanya, semoga saya bisa membantu =)

  3. Saya berencana membawa istri dan anak2x bulan Juli 2015, mau tanya apakah anak saya yg kelas 1 SD di Indonesia bisa daftar masuk termin ke 2 (september-Desember) di SD di Jepang? Bagaimana dengan masa transisinya? apakah ada pelajaran bahasa Jepang sebelum masuk SD nya?

    Salam

  4. Setahu saya, anak-anak bisa langsung mendaftar di termin manapun..untuk masa transisi nampaknya tidak ada. Namun kadang di beberapa sekolah, terdapat sukarelawan yang membantu mendampingi anak di awal-awal pelajaran dengan menerjemahkan pelajaran ke dalam bahasa Inggris (dengan catatan jika si anak bisa berbahasa Inggris).

    Saya tidak terlalu khawatir untuk kendala bahasa karena anak-anak biasanya cepat sekali menyerap bahasa baru, mungkin kurang dari setahun, anak anda sudah fasih Nihongo🙂.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s