30 tahun lagi

Di siang hari sambil makan soto dan duduk lesehan, Matsushita San melontarkan pertanyaan yang tak terduga. Pertanyaannya adalah :

“Menurut kalian, apakah Indonesia akan menjadi negara besar 30 tahun mendatang?”

Gw dan suami berpandang-pandangan. Dengan nada optimis kita bilang IYA. Alasannya semakin banyak kelas menengah baru di Indonesia, semakin banyak generasi muda Indonesia yang terdidik dan menimba ilmu di luar negeri.  Generasi ini diharapkan tidak bermental koruptor, berjiwa nasionalis dan percaya diri. Generasi inilah yang diharapkan memimpin Indonesia kelak. Indonesia juga kaya akan sumber daya alam. Dan kita tidak termasuk dalam populasi menua seperti Jepang. 30 tahun lagi, jumlah angkatan kerja muda masih banyak, perekonomian terus meningkat. Ramalan McKinsey Global Institute semakin mengesahkan keoptimisan kita. Tahun 2030 Indonesia akan menjadi negara dengan peringkat perekonomian ke-7 di dunia, mengalahkan Jerman. Mantab!

Tapi kadang pertanyaan ini terus mengusik batin gw *lebay*, Apa iya Indonesia bakal jadi negara hebat? Setiap baca berita tentang negara sendiri kok ya bikin miris. Jepang siap dengan shinkansen Maglev, Indonesia boro-boro punya monorail. Ngga usah jauh-jauh pakai skala negara, Jakarta contohnya. Masih semrawut. Bisa ngga sih negara kita naik kelas jadi negara maju dan masuk kelompok G8?

Ciri-ciri yang paling menonjol dari masyarakat negara maju adalah disiplin, patuh, menghargai waktu dan bekerja keras. Masyarakat kita bagaimana? sudah disiplin? sudah patuh? jam karetnya sudah dibuang? sudah bekerja keras? Kalau belum, apakah ada tindakan konkrit untuk mulai mengikis perilaku buruk seperti ini?

Kurikulum pendidikan nampaknya masih jadi ajang uji coba. Setiap ganti menteri, ganti pula kurikulumnya. Tidak ada master plan dan target yang spesifik. Jadi generasi anak-anak kita yang notabene akan menjadi pemimpin negara tiga puluh tahun mendatang, masih belum terbebas dari pengaruh buruk generasi sebelumnya. Anak-anak Indonesia masih akan terus disuguhi tontonan tidak bermutu, tindakan anarkis dan budaya korupsi. Kalau begini terus, tiga puluh tahun mendatang, Indonesia masih terus mengekspor pembantu. Nah lho, gw malah jadi pesimis.

Ngga usah jauh-jauh melihat keluar, tengoklah tetangga kanan-kiri. Negeri jiran yang sering dicaci maki karena sering mencuri, masih lebih unggul ketimbang negara kita. Universitasnya mampu membayar dosen lebih layak, dana risetnya masih lebih besar, infrastrukturnya masih lebih baik. Bukan rahasia lagi kalau banyak orang pintarnya Indonesia memilih hijrah ke sini.

Kalau negara kita mau maju, setarakan dahulu posisi kita dengan sang jiran. Setelah itu, baru melirik tetangga kita di dekat Riau. Tata kotanya patut ditiru, profesional dan pintar menjual diri. Indonesia tidak siap dengan demokrasi. Kita perlu rezim tangan besi untuk mengatur negara. Kalau berhasil, tiga puluh tahun mendatang dan kalau masih ada umur, gw bisa ngomong, “tuh kan..gw bilang juga apaaa =P”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s