Arubaito

Di Jepang, anak-anak muda yang telah lulus SMA biasanya akan hidup mandiri, memisahkan diri dari orang tuanya. Mereka akan menyewa tempat tinggal sendiri, mengatur hidupnya sendiri termasuk keuangannya. Bagi mereka yang akan melanjutan kuliah, pemerintah menyediakan pinjaman pendidikan yang dapat dicicil pembayarannya nanti ketika mereka sudah bekerja. Namun untuk memenuhi biaya hidup sehari-hari seperti sewa rumah, makan, transport, dll, mereka harus bekerja untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

Karena mereka masih kuliah maka pekerjaan yang bisa dilakukan harus fleksibel, bisa diatur sesuai dengan jadwal kuliah yang ada. Ada yang bekerja sejak subuh seperti mengantar koran, ada yang bekerja pagi hari di supermaket, ada yang bekerja di kedai-kedai makan, ada yang mengambil shift malam sebagai pencuci piring, dan lain sebagainya. Pekerjaan mereka ini biasa di sebut dengan nama arubaito (baito) atau part time. Jam kerja para pelajar ini dibatasi. Maksimal 20 jam perminggu agar tidak mengganggu kuliah.

Informasi tentang arubaito atau kerja paruh waktu ini bisa ditemukan di majalah-majalah khusus arubaito yang dengan mudah ditemukan di supermaket atau toko serba ada yang buka 24 jam, internet dan lain-lain. Syaratnya pun mudah. Asalkan mempunyai alamat resmi, siapapun bisa mendaftar sebagai pekerja paruh waktu.

Orang asing yang tinggal di Jepang dalam waktu lama pun bisa melamar menjadi pekerja paruh waktu. Syaratnya tentu saja bisa berbahasa Jepang dengan baik dan mendapatkan ijin dari kantor imigrasi.

Baru-baru ini gw mulai arubaito di restoran Indonesia yang letaknya agak jauh dari tempat tinggal gw. Sebenarnya banyak sekali lowongan arubaito  yang dekat rumah. Tapi karena kendala bahasa, sulit mendapatkan pekerjaan di tempat-tempat tersebut.

Bekerja sebagai pelayan di restoran adalah hal baru buat gw. Gw belajar hal dasar mulai dari membersihkan restoran, mengatur meja, mengantar pesanan, membersihkan piring dan gelas, dll. Dari semuanya, yang paling sulit adalah menumpuk piring kotor di tangan. Setelah merasakan jadi pelayan, betapa gw sangat mengagumi para pelayan resto padang yang bisa membawa piring bertingkat-tingkat di tangannya tanpa terjatuh. Syusyah gilaaaakk!!

Pelajaran penting lainnya adalah gw semakin menghargai uang. Bok, jadi pelayan itu capek ternyata. Bolak balik, mundar mandir, belum lagi kalau salah kena tegur, pfiuh! Kerja fisik itu lebih keras ketimbang kerja otak. Makanya makin kurus gw sekarang =D. Tapi temen-temen kerja yang mayoritas orang Indonesia, semuanya ramah-ramah. Beberapa dari mereka adalah pekerja tetap, pelajar sekolah bahasa, istri-istri orang Jepang dan emak-emak pengangguran butuh uang kayak gw  =D.

Setelah mendapatkan kebijaksanaan baru seperti ini, gw akan menyuruh anak gw nanti untuk bekerja sejak muda. Biar dia merasakan bahwa mencari uang itu ngga gampang. Bahwa hidup itu penuh perjuangan. Bahwa gengsi itu nomer seratus, uang nomer satu hahahaha. Menjadi pelayan juga memberikan pelajaran bagaimana cara mengelola restoran dengan baik. Kedispilinan dan kebersihan harus optimal. Dan tentu saja, moto pembeli adalah raja. Irrashaimase!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s