Setahun di KAUST

Ngga terasa sudah setahun kita hijrah ke ‘negara’ KAUST. Kalau biasanya lewat satu tahun, gw mulai gerundelan ini-itu, alhamdulillah satu tahun di sini gw merasa sangat bersyukur, bahagia, tenang, bahkan punya perasaan ngga mau pindah. Betah..betah..betah. Selama KAUST masih seperti ini, gw pingin terus di sini🙂

Hidup dalam komunitas kecil itu lebih enak. Lebih tertata dan lebih sedikit masalah. Kemarin sempat ada masalah dengan asupan air bersih dan listrik. KAUST memang tidak siap dengan hal-hal darurat tetapi presidennya cepat tanggap dalam menyelesaikan masalah.

Setahun di sini, kita mulai hapal kota Jeddah. Setidaknya tau di mana tempat buat makan pecel lele, sate ayam, bakso, nasi goreng, pempek, meski salah satu tempat itu baru saja kena garuk polisi karena berada di taman umum yang terlarang buat berjualan. Sedihnya ;(

Tinggal di KAUST yang notabene berada di provinsi Mekkah, berarti dekat dengan Ka’bah. Kalo kangen tinggal naik bis, gratis dan nyaman. Ngga mau uyel-uyelan, tinggal datang pas umrah lagi ditutup buat jamaah luar negeri. Lega dan kesempatan buat cium Hajar Aswad juga besar. Minum zam-zam sepuasnya. Duh, nikmat tiada tara.

Anak juga sudah terbiasa dengan sekolah dan teman-temannya. Cuma ibunya yang kurang terbiasa. Di Jepang biasa dengan pe-er yang banyak, buku yang banyak, rapat dan kegiatan sekolah. Di sini pe-ernya via aplikasi di tablet. Gurunya bisa ngecek hasilnya dan memantau perkembangannya. Belajar kebanyakan lewat komputer (semua anak dapat iMac di sekolahnya) dan foto kopian. Dan belajar dengan diskusi, diskusi dan diskusi. Tetapi biar  bagaimana pun, gw sangat bersyukur. Sekolah gratis dan fasilitasnya bagus.

Hal lain yang mulai berubah dari ritme hidup gw adalah mulai kerja full time. Gw sudah ngalamin semuanya. Mulai dari single bekerja, ibu rumah tangga, ibu bekerja dengan asisten rumah tangga, ibu rumah tangga dan kerja paruh waktu, dan ibu bekerja tanpa asisten. Dari semuanya, yang paling berat adalah ibu bekerja tanpa asisten. Rasanya seperti jadi superwoman. Pagi siap-siap, kerja, jemput anak, masak, nemenin anak belajar sebentar terus tidur. Teler. Untungnya punya suami yang top markotop. Telaten nemenin anaknya belajar, pengertian kalo istrinya lagi ngga masak karena kecapekan ato ngga mood😛, pipisin anaknya tengah malem, ngurusin anak dan bahkan masak kalo gw mesti lembur pas weekend. Jempol deh. KAUST juga memberi support untuk para single parent, keluarga tanpa asisten seperti kita untuk bisa bekerja dengan tenang. Ada day care dan penitipan anak bagi anak yang mulai besar.

Yang pasti, hidup di KAUST lebih banyak sukanya ketimbang sebelnya. Lebih banyak bahagianya ketimbang sedihnya. Selama ada KAUST, ada sambal mbak Wita, ada pistachi mammoul, ada jadwal nge-mall seminggu sekali, gw ngga punya alasan buat ngedumel.

Happy 1 year KAUSTiversary to us.

Semoga tahun mendatang lebih baik lagi, semoga Tuhan terus melimpahi karunianya kepada kita semua. Amien.

2 thoughts on “Setahun di KAUST

  1. Hi,

    Perkenalkan nama saya Genny, kebetulan saya dapat tawaran utk bekerja sebagai contractor KAUST, cuma yg menjadi kendala buat saya adalah memilih tempat tinggal yg mudah untuk menjangkau KAUST dan aman serta nyaman untuk membawa istri dan anak-anak. Mungkin bisa share ada compound atau tempat tinggal yg baik untuk kami sekeluarga dekat KAUST?

    Regards,

    Genny

  2. Halo Genny,

    Di sini aja juga kontraktor dari Indonesia, kalau ngga salah info, beliau tinggal di sekitar Obhur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s